Minggu, 15 Desember 2019

HIDUP BERSAMA: Sebuah Refleksi Terhadap Mazmur 133:1-3

Oleh: Made Nopen Supriadi
       Mazmur 133:1-3 adalah salah-satu Mazmur Ziarah. Mazmur ziarah merupakan tulisan yang menunjukkan keriduan Pemazmur berjalan menuju tempat yang kudus. Dalam Kitab Mazmur ada 15 Mazmur Ziarah, yaitu Mazmur 120-134. Dalam Mazmur Ziarah ada beberapa latar belakang yang perlu kita tahu, yaitu:

     1.      Ziarah menunjuk kepada kerinduan Daud kembali ke Yerusalem pada waktu dia keluar dari Yerusalem karena dikejar-kejar musuh. 
      2.      Ziarah menunjuk pada Salomo yang merindukan anak-anaknya datang kepada Tuhan.
      3.      Ziarah yang menunjuk umat Israel datang ke rumah Tuhan.

         Mazmur 133 menunjuk kepada latar belakang yang ke tiga. Jadi Daud menggubah Mazmur ini untuk mengingatkan umat Israel yang datang ke rumah Tuhan bersama-sama. Dalam terjemahan NIV istilah 'diam bersama' dituliskan dengan 'live together' yang artinya 'hidup bersama'. Maka istilah 'Hidup Bersama' dalam pembahasan ini menunjuk kepada kebersamaan manusia datang ke rumah Tuhan dan berada bersama di rumah Tuhan. Oleh karena itu melalui firman Tuhan ini kita akan belajar apa yang ditekankan dalam Pemazmur, ketika manusia 'hidup bersama'?.

      1.      Kebersamaan dalam Persatuan (ay. 1)11
         Istilah ‘diam bersama dengan rukun’ (NIV: Brothers live together in unity). Memiliki arti saudara-saudara hidup bersama dalam kesatuan. Jadi kebersamaan datang ke rumah Tuhan, juga diwarnai dengan rasa kesatuan. Konteks Alkitab menunjukkan bahwa Umat Israel memiliki 12 suku, Daud mengharapkan mereka tetap memiliki kesatuan dalam kebersamaan mereka datang ke Bait Suci. Lalu saat datang ke Bait Suci bukan hanya ada orang Israel, tetapi bangsa luar juga hadir, sehingga persatuan dalam kebersamaan datang ke rumah Tuhan, tidak hanya kepada pada orang-orang satu Kerajaan, tetapi juga dari luar kerajaan.
       Tuhan Yesus juga mengajarkan para Murid agar membangun sikap positif dan baik kepada orang-orang di luar Suku Isarel. Kisah Yesus dan perempuan Samaria menunjukkan bagaimana Yesus memberikan sebuah prinsip bahwa kebersamaan dalam Kebersamaan menembus batas-batas tradisi, suku dan bangsa. Dalam membangun kesatuan ada banyak problematika yang dihadapi, salah satunya adalah megalomania, hal ini merupakan sebuah kondisi dimana manusia merasa lebih besar dari yang lainnya. Tuhan Yesus pernah menghadapi masalah ini saat bersama dengan para Murid, ketika Yohanes dan Yakobus 'berambisi' untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus (Mat. 20:20-28). Namun Tuhan Yesus mengatasi pemahaman tersebut dengan memberikan prinsip jika ingin menjadi yang terutama maka menjadi hamba bagi semuanya.
         Kesatuan dalam kebersamaan merupakan prinsip penting yang perlu dibuat dalam sebuah persekutuan. Kebersamaan tanpa perskeutuan maka kebersamaan tersebut adalah kebersamaan yang palsu. Kesatuan memang penting, namun untuk mewujudkannya tidaklah mudah, sejarah menunjukkan ada banyak ancaman dalam kesatuan Gereja, baik eksternal maupun internal. Oleh karena itu sangat penting membentuk sebuah kebersamaan dalam kesatuan, meskipun sulit namun setiap orang percaya setidaknya telah berusaha membangun kesatuan.

      2.      Kebersamaan dan Kekudusan (ay. 2)
          Minyak yang baik yang meleleh dari janggut ke jubah Harun menunjukkan minyak yang baik tersebut berfungsi sebagai pengurapan untuk Harun. Dalam Keluaran 30:30 menyatakan bahwa Harun dan anak-anaknya diangkat menjadi Imam bagi umat Israel dan sebelum memegang jabatan imam maka Harun dan anak-anaknya diurapi dengan minyak urapan kudus. Hal tersebut menunjukkan pengudusan dalam pentahbisan Harun. Demikian juga Kebersamaan yang dituliskan Daud bukan hanya Kebersamaan yang memiliki kesatuan, tetapi Kebersamaan yang juga memiliki kekudusan.
       Ada kelompok teroris mereka bersekutu dan bersatu tetapi bersama-sama untuk melakukan aksi terorisme, apakah demikian juga dalam kehidupan keKristenan di Gereja?. Karena itu yang membedakan Gereja dengan dunia adalah adanya nilai kekudusan dalam sebuah Kebersamaan yang bersatu. Calvin menuliskan: "Jika Allah menerapkan standar kekudusan-Nya maka semua orang Kristen akan keluar dari Gereja. Namun tetaplah bersyukur jika hanya satu langkah kecil atau sedikit perubahan yang terjadi, itu artinya masih ada harapan."
        Oleh karena itu Gereja tidak cukup hanya membangun kesatuan, tetapi hendaknya mengikat kesatuan dengan kekudusan. Jika kesatuan Gereja tidak diikat dengan kekudusan, maka munculnya sebuah kondisi di mana dosa mengisi sebuah kesatuan Gereja atau pun sebuah persekutuan. Kasus demikian telah terjadi pada waktu Tuhan Yesus hadir di Bait Suci, Ia melihat banyak orang bersatu bersama-sama di Bait Suci untuk berjualan dan di dalamnya mereka melakukan sebuah kejahatan, sehingga Tuhan Yesus mengusir mereka. Kemudian para imam-imam di Bait Suci yang bersatu namun memikirkan hal yang berdosa, yaitu mereka memikirkan rencana untuk membunuh Yesus. Dengan demikian celakalah Gereja!, jika bersatu namun tanpa kekudusan, maka Gereja tersebut atau lembaga rohani apa pun hanya akan menjadi alat setan, untuk merusak kehidupan orang percaya. Maka Gereja sangat perlu membangun kesatuan dan juga kekudusan.

      3.      Kebersamaan  yang Menghidupkan (ay. 3)
          Daud dalam perenungannya, melihat bahwa kebersamaan orang-orang yang datang berziarah, tidak hanya cukup mereka membangun kesatuan dan kekudusan, tetapi perlu untuk menciptakan suasana yang hidup dalam persekutuan. Dalam ayat ke 3 menunjukkan Gunung Hermon adalah gunung yang berada di sebelah Utara Israel dan Gunung Sion ada disebelah selatan Israel, jarak Gunung Hermon ke Gunung Sion adalah 400 KM. Apakah mungkin embun dari Hermon menuju ke Sion?. Tidak mungkin. Gunung Hermon memiliki embun atau es, embun dan es yang mencair mejadi sumber air bagi sungai Yordan. Air sungai Yordan inilah yang dimanfaatkan menjadi sumber air yang memberi kehidupan bagi umat Israel di Sion.
         Jadi Daud mengharapakn agar Umat Israel membentuk Kebersamaan yang tidak hanya bersatu dan kudus, tetapi memberikan kehidupan. Kebersamaan yang bersatu dan kudus tanpa memberikan kehidupan, sama seperti sebuah Kebersamaan yang terikat pada legalitas agama. Jika tidak kudus maka tidak bisa bersekutu, jika berdosa maka tidak bisa bersekutu dengan Tuhan. Apakah demikian konsep dalam iman Kristen?. Tuhan Yesus menunjukkan kasus dimana manusia bersekutu namun terikat legalisme, yaitu ketika kelompok orang Farisi, ahli Taurat dan Para Imam Bait Suci yang memandang hina orang berdosa, perempuan yang berzinah, orang yang miskin, pemungut cukai dan orang yang di salib dipandang hina. Mereka bersekutu? Ya!. Mereka bersatu? Ya!. Mereka menjaga kekudusan lahiriah? Ya!. Tapi kelompok mereka memberikan rasa kematian kepada orang-orang berdosa. Tuhan Yesus justru menunjukkan bahwa Ia datang kepada orang yang sakit, baik jasmani dan rohani. Datang kepada orang yang miskin, baik materi dan rohani.
          Tuhan Yesus memberikan gambaran sebuah Kebersamaan yang kudus namun tidak terikat oleh legalisme yang mematikan. Tuhan Yesus mengajarkan sebuah Kebersamaan yang bersatu, kudus dan memberi kehidupan. Ungkapan ’Kesanalah Tuhan memerintahkan berkat’ menunjukkan bahwa sumber berkat adalah Tuhan. Sebagai sumber berkat Tuhan memerintahkan berkat tersebut tertuju kepada umat Israel yang pergi bersekutu ke rumah Tuhan. Artinya bukan karena hebatnya Kebersamaan maka berkat pasti diberikan Tuhan. Tetapi karena Tuhan memberkati maka Kebersamaan memberikan kehidupan. Bahkan Kebersamaan tersebut membawa manusia untuk menikmati sebuah kehidupan yang bernilai. Dengan demikian jika dalam kebersamaan, telah berhasil menciptakan kesatuan, kekudusan dan kehidupan namun tidak ada hak untuk menuntut Tuhan memberkati kebersamaan tersebut. Karena Tuhanlah yang berhak memberikan berkat tersebut.

Penutup
        Hidup bersama itu perlu, namun dalam kebersamaan juga harus menjaga prinsip-prinsip penting, yaitu dengan memiliki kesatuan, kekudusan dan kehidupan. Ketiga prinsip tersebut perlu diseimbangkan dalam sebuah Kebersamaan. Kesatuan yang baik dan indah memperlihatkan kekudusan dan kekudusan yang sejati memberikan kehidupan. Soli Deo Gloria.

(Tulisan ini sudah dikhotbahkan di Pos PI GEKISIA Kota Bengkulu, di Kelapa, Bangka
pada 15 Desember 2019).





Rabu, 21 Agustus 2019

THEOLOGIA SALIB

Salib: Bukti Kasih dan Keadilan Allah, Penderitaan dan Kemenangan Bagi Orang Percaya.

Salib adalah sebuah simbol dalam iman Kristen. Dalam simbol itu memiliki makna Kasih dan Keadilan Allah.
Allah itu adil sehingga dosa pasti dihukum. Namun Allah itu kasih, sehingga Ia menghukum dosa dengan kasih-Nya. Kasih-Nya dalam menghukum dosa dibuktikan dengan memberikan Diri-Nya sendiri yang menanggung hukuman dosa. Itu adalah konsep Allah yang Mahakasih. Tidak ada tempat dan satu simbol manapun yang dapat memberikan bukti pertemuan kasih dan Keadilan Allah. Hanya di dalam Saliblah terjadi pertemuan kasih dan Keadilan Allah. Ketika memandang Salib kita teringat betapa kita manusia berdosa dan layak dihukum disinilah keadilan Allah kita rasakan, tetapi pada saat yang sama kita juga mengerti di Salib juga kita menerima bukti nyata kasih Allah, bahwa hukuman dosa kita telah diselesaikan oleh Yesus Kristus, sehingga ketika memandang Salib kita teringat akan Allah yang maha kasih.
Salib merupakan simbol kasih dan Keadilan Allah. Di dalam salib kita mengerti bahwa Allah telah mendamaikan kita dengan Diri-Nya, di dalam Salib kita melihat bahwa bentuk Vertikal menunjukkan bahwa salib memperdamaikan manusia dengan Tuhan, lalu bentuk Horizontal menunjukkan bahwa manusia diperdamaikan dengan sesama manusia.
Jadi ketika memandang Salib, kita mengerti sebuah konsep cinta kasih. Di dalam salib cinta kasih kepada Tuhan dan sesama terpancar. Di dalam salib pengampunan dinyatakan.

Salib juga mengingatkan manusia bahwa salib adalah simbol penderitaan. Setiap orang yang memandang salib harus mengerti bahwa hidup ini ada dalam pemderitaan, karena Yesus Kristus ketika di salib merasakan kelelahan, penderitaan, kesakitan dan kematian. Ketika kita memandang Salib maka kita diingatkan bahwa iman kita diperhadapkan dengan penderitaan. Hidup sebagai pengikut Kristus akan mengalami penderitaan. Namun pada saat yang sama pada waktu kita memandang salib, kita diingatkan akan sebuah kemenangan. Yesus meskipun merasakan penderitaan Salib, Ia menunjukkan kemenangan. Ia lelah di salib tetapi masih memikirkan kelelahan orang lain, Ia menderita di Salin tetapi masih memikirkan penderitaan orang lain, Ia akan mati di Salib tetapi memikirkan keselamatan orang lain, bahkan Ia diejek dan dicacimaki tetapi masih memberikan pengampunan, Ia berkata: "Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!". Yesus menunjukkan kemenangan atas penderitaan-Nya dan itu dibuktikan di atas kayu Salib. Saat di mana manusia bisa mengucapkan sumpah serapah dan caci maki karena rasa sakit di Salib justru Yesus tidak jatuh dalam dosa saat menderita, justru Ia menunjukkan kemenangan-Nya atas dosa saat di Salib. Bahkan kemenangan itu semakin nyata saat Ia benar-benar taat menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya. Ia bisa saja memakai otoritasnya untuk menghindarkan diri dari penderitaan Salib, tetapi Ia taat dan menang atas keinginan daging.
Dengan demikian ketika kita memandang Salib kita sadar kita akan menderita tetapi kita juga disadarkan bahwa kita dapat menang dalam menghadapi penderitaan, karena kita mengingat Yesus yang menang atas penderitaan di Salib.
Penutup
Salib menunjukkan keadilan dan kasih Allah. Salib menunjukkan penderitaan dan kemenangan. Berita tentang Salib memang banyak dibenci, namun makna kehidupan terdalam memancar dari Salib. Salib bukan sekedar simbol yang harus terpakai, tetapi salib adalah simbol yang harus dihidupi dalam keseharian orang percaya. Dengan menghidupi salib maka cinta kasih kepada Tuhan dan sesama terpancar dari diri seorang Kristen.

Mezbah = Salib
Dalam konteks PL, Allah menetapkan hukum penghapusan dosa dengan cara memberikan korban penebusan dosa yaitu Domba yang tidak bercacat. Korban tersebut dipersembahkan di atas Mezbah. Lalu apakah orang Kristen masa kini masih melakukan hal itu jika ingin menebus dosanya?... Tidak!.

Dalam konteks PB, Allah telah menggenapi hukum penghapusan dosa dengan cara memberikan korban penebusan dosa yang sempurna, yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus disebut dalam Injil Yohanes 1:29 sebagai "... Anak domba Allah, yang menghapus dosa manusia." Yesus sebagai penggenapan dari korban yang sempurna dalam menebus dosa. Yesus Kristus sebagai korban yang sempurna rela mengorbankan Diri-Nya di Kayu Salib.

Jika kita melihat dalam PL mezbah adalah tempat meletakkan korban penebus dosa yaitu Domba yang tak bercacat. Dalam PB Salib adalah tempat meletakkan korban penebus dosa yang sempurna yaitu Anak domba Allah Yesus Kristus. Jadi mezbah dalam PL adalah bayangan dari Salib dalam PB. Salib dalam PB memberikan terang untuk memahami penggenapan pengorban korban penebus dosa do atas mezbah.

Jadi di Saliblah kita melihat nilai pengorbanan yang begitu agung. Yesus Kristus rela mengorbankan Diri-Nya menjadi tebusan dosa banyak orang dan itu hanya dilakukan satu kali (Ibr. 9:28). Maka ketika kita menghidupi makna salib kita menjadi pengikut Kristus yang siap hidup dalam pengorbanan. Yesus mengorbankan hidup-Nya bagi manusia yang berdosa, maka kita juga harus siap berkorban agar manusia yang berdosa mengerti pengorbanan Kristus yang menebus dosa. Pengorbanan Kristus adalah pengorbanan yang menggantikan (subtitusi) hukuman, murka Allah atas manusia yang berdosa ditumpahkan kepada Yesus Kristus, sehingga siapa yang percaya kepada Yesus tidak ada di bawah hukuman murka Allah. Karena salib Kristus telah menjadi tanda pengorbanan dan kasih Allah.
Oleh karena itu membangun mezbah keluarga artinya keluarga Kristen harus menghidupi makna salib dalam keluarganya. Mezbah keluarga sejati adalah karya Salib Kristus. Keluarga yang membangun mezbah keluarga melihat dan mengerti makna salib yang menunjukkan cinta kasih, keadilan, pengorban, Penderitaan dan kemenangan.
Soli Deo Gloria

Ditulis oleh: Made N. Supriadi (23/08/2019)

Ditulis oleh: Made N. Supriadi (21/08/2019)

Rabu, 07 Agustus 2019

PRINSIP TEOLOGI REFORMED: SOLA GRATIA

Oleh: Made N. Supriadi, S.Th
A. Latar Belakang Penulisan
     Dalam kehidupan manusia secara praktis kita sering melihat banyak manusia yang menyombongkan dirinya, apakah karena keberhasilan dalam jabatan, pendidikan akademik, kekayaan dan lain sebagainya. Kemudian dalam konteks spiritualitas kita menyaksikan manusia yang berjuang keras melakukan perbuatan baik dengan tujuan agar masuk ke sorga, sehingga cenderung memunculkan arah sikap melakukan segala sesuatu untuk dapat mengubah hati Tuhan agar menerimanya di sorga, keadaan demikian juga terkadang mendorong manusia dengan sungguh-sungguh memberikan segala sesuatu bagi Tuhan. Tidak sampai disana, bahkan ada manusia yang rela menghabisi nyawannya sendiri, dengan cara bunuh diri, dengan alasan hidupnya tidak berarti. Berdasarkan dari persoalan tersebut penulis melihat bahwa problematika yang dihadapi adalah kurangnya memahami prinsip sola gratia. Istilah sola gratia merupakan prinsip penting dalam Teologi Reformed. Dalam tulisan ini akan membahas mengenai konsep sola gratia, dalam pembahasan ini akan membahas mengenai definisi dari sola gratia, selanjutnya meninjau prinsip tersebut di dalam Alkitab, lalu bagaimana para tokoh Reformator mengimplementasikan prinsip tersebut, selanjutnya memberikan jawaban terhadap keberatan prinsip sola gratia dan terakhir adalah penutup serta aplikasi perinsip tersebut.
B. Definisi Sola Gratia
          Dalam definisi ini penulis akan mengutip tulisan dari Pdt. Stevri I. Lumintang dalam bukunya Theologia Reformasi Abad XXI: Gereja Menjadi Serupa Dunia. Dalam buku tersebut ia menuliskan, sola (alone atau only), gratia (grace) artinya hanya oleh anugerah saja (Stevri I. Lumintang, Theologia Reformasi Abad XXI: Gereja Menjadi Serupa Dunia, (Jakarta: Geneva Insani Indonesia, 2017), 80). Kata 'gratia' merupakan kata Latin yang memiliki arti kemurahan hati, anugerah dan syukur (Hen ten Napel, Kamus Teologi Inggris - Indonesia (Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia, 2012), 151). Selanjutnya Dr. R. Soedarmo dalam bukunya Kamus Istilah Teologi menjelaskan arti kata 'anugerah' yaitu sesuatu yang baik yang diberikan tanpa adanya jasa dari si penerima, malahan meskipun penerima sebenarnya harus dijatuhi hukuman. Dalam tulisan ini konteks yang dibahas mengenai kata gratia adalah pada konteks kesemalatan (soteriologi). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa arti sola gratia adalah keselamatan hanya oleh anugerah saja. Atau dapat dimengeri juga bahwa keselamatan merupakan pemeberian Allah kepada manusia yang layak dijatuhi hukuman atas dosanya, namun tetap diberikan keselamatan tanpa adanya jasa dari manusia. Inilah pemahaman sola gratia dalam konteks keselamatan dalam iman Kristen. 
C. Prinsip Sola Gratia Di Dalam Alkitab
        Prinsip sola gratia atau hanya oleh anugerah, bukanlah prinsip yang baru. Prinsip ini sudah hadir dalam kehidupan manusia mula-mula. Manusia pertama yaitu Adam dapat hidup oleh karena nafas kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Dengan demikian hidup adalah anugerah Tuhan, manusia tidak dapat menciptakan 'kehidupan / nyawa' Alkitab mencatat dimulainya kehidupan karena Allahlah yang memberikannya dan memulainya. Selanjutnya prinsip hanya oleh anugerah dapat kita temukan dalam fakta kejatuhan manusia pertama dalam dosa, ketika manusia malu dan telanjang, Allah tidak mematikan mereka langsung, tetapi Allah memeberikan kesempatan hidup kepada manusia, bahkan untuk menutupi tubuh manusia yang telanjang Allahlah yang berinisiatif memberikan kulit binatang kepada manusia. Inilah fakta bahwa prinsip sola gratia bukanlah prinsip baru.
        Selanjutnya prinsip sola gratia juga nyata dalam kehidupan Henokh dan Elia di mana mereka diangkat oleh Tuhan ke Sorga dan tindakan tersebut jelas memperlihatkan terjadi karena anugerah Tuhan semata, tanpa ada campur tangan manusia. Peristiwa penyelamatan Nuh dan keluarganya dari Bah merupakan kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada Nuh sekeluarga. Pemanggilan Abraham juga merupakan anugerah Allah, pemilihan Yakub sebagai juga merupakan anugerah Allah.
         Prinsip hanya anugerah juga dapat kita temukan dalam fakta kehidupan Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya namun Allah memakainya menjadi penolong sauadara-saudaranya yang kelaparan di masa mendatang. Pembebesan umat Israel dari perbudakan di Mesir merupakan karya Allah yang menunjukkan anugerah-Nya. Dalam PL juga kita sering menemukan prinsip hanya anugerah Allah dalam kasus Daud mengalahkan Goliat dan menjadi raja merupakan karena anugerah Allah. Dalam PL juga kita melihat prinsip-prinsip anugerah Allah dalam peperangan melawan Asyur di mana Allah yang berperang bagi umat Israel itulah anugerah.
          Dalam Perjanjian Baru (PB) prinsip anugerah dapat kita lihat dari perkataan Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa "Anak manusia datang untuk mencari yang terhilang (Matius 18:11)", Tulisan Paulus dalam Roma 5:8 menyatakan konsep anugerah Allah "akan tetapi Allah menunjukkan kasihnya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa". Selanjutnya lebih jelas kembali dalam Efesus 2:8-9 "sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah., itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." Jadi prinsip sola gratia adalah konsep yang Alkitabiah, karena Alkitab menunjukkan satu-satunya pribadi yang dapat memberikan anugerah keselamatan hanya karena karya Kristus (Ibr. 9:28). Dalam banyak teks PB kata anugerah sering disertai dengan kasih karunia Allah (Lih. Roma 12:3,6,15:15;1Kor. 1:4, 3:10, 15:10, 2Kor. 8:1; Gal. 2:9; Ef. 3:8, 4:7; Yak. 4:6; 1Pet. 1:13). Dengan demikian prinsip sola gratia adalah prinsip yang telah ada dalam Alkitab dan para reformator hanya meneruskan dan menegaskan kembali (reaffirmed) prinsip yang telah ada.
C. Implementasi Prinsip Sola Gratia
       Secara konseptual prinsip sola gratia diimplementasikan oleh para reformator. Marthin Luther yang telah mengikuti ritual dalam tradisi gereja Katolik Roma pada abad ke XVI akhirnya bergumul tentang keselamatannya. Melihat banyaknya tradisi yang menyusahkan manusia untuk bisa mendapatkan kesalamatan, sehingga dalam kehidupan Luther ia bingung tentang dosanya, namun setelah membaca Roma 1:16-17 ia dicerahkan oleh prinsip "keselamatan hanya oleh iman". Ketika memahami nats inilah Luther akhirnya mengerti bahwa keselamatan itu hanya dan melalui iman kepada Kristus.
       Selanjutnya dalam kehidupan tokoh Reformator John Calvin, prinsip teologi anugerah nyata diimplementasikan. Hal tersebut dapat terlihat dari tulisan-tulisan beliau, yang menekankan keselamatan adalah anugerah Allah. Kemudian dalam kehidupan praktis beliau, yang selalu bersyukur atas apa yang terjadi, baik dalam kehidupan keluarganya, di mana ia harus menghadapi kematian anak-anaknya dan istrinya. Serta sikap hidup yang bersandar pada anugerah Allah ia tunjukkan dalam pelayanannya yang penuh dengan tantangan, saat ditolak di Jenewa dan diterima kembali. Calvin menimplematasikan hidupnya sebagai anugerah dari Allah.
D. Menjawab Keberatan Terhadap Prinsip Sola Gratia
       Prinsip Sola Gratia tidak serta merta diterima dalam pemikiran keKristenan. Dalam sejarah keKristenan, memaknai prinsip anugerah dalam konteks soteriologi juga mendapat tantangan, munculnya ajaran-ajaran yang mendasari keselamatan melalui usaha manusia (Anthroposentris) banyak bermunculan, hal tersebut telah terlihat dalam konteks Bapa-bapa Gereja, yaitu hadirnya Pelagius yang berkontra dengan Augustinus, pada abad reformasi ada John Calvin dan Jacobus Armenius. Bahkan ada ajaran semipelagianisme, yang mencoba untuk memadukan konsep keselamatan antara anugerah Allah dan kemampuan manusia (sinergisme). Dalam hal praktis muncul pemikiran ateisme yang membawa manusia berpikir bahwa Tuhan tidak ada, kehidupan ini berjalan dengan sendirinya, sesuai dengan hukum alam semesta, sehingga manusia tidak pernah memikirkan bahwa kehidupan dan kenyamanan dalam alam semesta adalah anugerah Allah. Bahkan banyak manusia yang berhasil memiliki banyak materi selalu mengatakan bahwa keberhasilannya adalah usahanya sehingga mengabaikan peran Tuhan dalam keberhasilannya. Bahkan banyak manusia yang memiliki pemikiran yang sembrono dengan menilai rendah kehidupan, sehingga melakukan aksi bunuh diri dan membunuh sesama karena tidak mengabaikan bahwa kehidupan adalah anugerah Allah.
        Keberatan-keberatan yang muncul baik secara teologis, filosofis dan praktis tersebut juga menyerang dalam kehidupan iman Kristen. Teologia Reform memberikan jawaban yang tegas bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu,sehingga tidak ada satu pun yang ada dalam dunia dan terjadi dalam dunia di luar dari otoritas Allah. Sehingga dalam prinsip Teologia Reform memberikan jawaban tegas bahwa secara teologis keselamatan adalah anugerah Allah, manusia tidak memiliki campur tangan dalam keselamatan (Lih. Ef. 1:4). Selanjutnya dalam konteks sejarah dunia dan terpeliharanya alam semesta dalam Teologia Reform diajarkan doktrin Anugerah Umum (Common Grace) sehingga sekalipun manusia telah berada dalam kondisi rusak total (total depravity), namun kerusakan tersebut tidak sampai menghancurkan seluruh isi bumi dan alam semesta, meskipun manusia bisa memiliki senjata pemusnah masal namun perdamaian dunia masih tetap terjaga. Hal tersebut dalam perspektif teologi Reform karena adanya anugerah Allah secara umum, Allah memberikan matahari, hujan, musim panas, air dan sebagainya kepada semua orang yang ada di bumi, apakah dia jahat atau baik, percaya dan tidak percaya mereka merasakan berkat yang sama. Namun dalam teologia Reform juga mengajarkan tentang anugerah khusus (special grace) anugerah ini diberikan khusus oleh Allah kepada orang-orang yang dipilih dalam keselamatan. Anugerah ini bukanlah usaha manusia tetapi murni karya Allah. Orang yang diberikan anugerah ini akan mengenal siapa itu Yesus Kristus, siapa yang mengenal Yesus Kristus akan mengerti apa arti kehidupan ini, yang mengerti arti kehidupan ini tidak akan merusak hidupnya dengan bunuh diri dan tidak akan berhenti mengucap syukur bahwa segala sesuatu adalah pemberian Allah. Manusia yang diberikan anugerah khusus tidak dapat menjadai manusia yang ateis praktis, Alkitab memberikan catatan penting bahwa setiap manusia yang diberikan anugerah khusus, dia akan hidup meproklamasikan imannya, Yesus diberitakan melalui hidupnya dan kata-katanya, baik dalam keadaan susah maupun bahagia. Manusia yang menolak anugerah, bukan karena mereka punya power untuk menolak, tetapi karena Allah memanag tidak memberikan anugerah kepada hati mereka yang rusak oleh dosa, sehingga mereka hidup dalam kekerasan hati. Dalam teologia Reform diajarkan tentang anugerah yang tidak dapat ditolak (irrisistible of grace), jadi Allah memberikan anugerah-Nya bukan karena apa yang dilihat pada diri manusia, karena manusia sudah berdosa (Roma 3:23), sehngga dasar Allah memberikan anugerah-Nya adalah karena kehendak Allah sendiri. Dengan demikian manusia yang dapat memahami prinsip sola gratia adalah manusia yang memang diberikan anugerah oleh Allah, sehingga Roh Kudus bekerja melahirbarukan manusia sehingga manusia mampu untuk mengerti Pribadi dan Karya Allah.
E. Penutup
       Prinsip sola gratia merupakan prinsip Alkitabiah, prinsip teologis ini merupakan pilar penting dalam teologia Reform. Allah yang memberikan anugerah-Nya kepada manusia, akan membuat manusia memahami berharganya kehidupannya dan mengerti bahwa pemeliharaan Tuhan (the Providence of God) merupakan anugerah Allah. Manusia yang mengerti makna anugerah Allah akan mengerti bagaimana mensyukuri  hidupnya dan pasti akan menggunakan hidupnya dengan maksimal untuk melaksanakan mandat budaya (culture mandate) dan mandat misi (evangelitation mandate) dan hidup mempermuliakan Allah dan bersukacita selalu di dalam Kristus. Soli Deo Gloria


Senin, 01 Juli 2019

Manusia Dan Logika: Sebuah Pembahasan Relasional-Teologis



Oleh: Made Nopen Supriadi, S.Th

            Adam diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan pemikirannya, hal ini mencerminkan hikmat Allah dan juga membedakan dia dengan binatang (2Pe 2:12, Yud 10). Kita telah pelajari bahwa di taman Eden Adam telah menggunakan akal budinya dalam kebergantungan-Nya kepada Allah. Dia membangun pola berpikirnya sesuai dengan petunjuk Allah. Adam pasti menggunakan logika meskipun dalam bentuk yang sederhana, dan ia menggunakannya dalam ketaklukannya kepada Allah. Dia tidak pernah mengabaikan kebergantungannya kepada Allah dengan berpikir logikanya yang mampu untuk memberikan kepada dia penjelasan dan pengetahuan untuk terpisah dari Allah. Akibatnya, penggunaan Adam dalam kemampuannya untuk menggunakan akal budinya selalu tunduk pada keterbatasan dan pimpinan penyataan Allah. Allah selalu dilihat sebagai dasar dari kebenaran dan gembala dari kebenaran, oleh karena pada saat itu Adam masih dalam keadaan manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dan tanpa dosa.              Dari peranan akal budi berdasarkan logika yang dimiliki oleh manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia, maka ada beberapa pengamatan dapat kita lakukan.

Pertama, menggunakan akal budi dan mengembangkan pemikiran itu bukanlah merupakan sesuatu yang salah dan jahat. Kekristenan telah mendapat berbagai macam serangan dari mereka yang mengklaim bahwa segala sesuatu harus "masuk akal" dan "ilmiah." Beberapa orang Kristen berpikir bahwa perlindungan satu-satunya adalah dengan cara menolak ilmu pengetahuan dan pemakaian akal budi serta menganggap ke dua hal itu sebagai sesuatu yang jahat. Penggunaan akal budi bukanlah merupakan sesuatu yang jahat, sebab di dalam taman Eden, Adam juga menggunakan akal budinya dan dia mengembangkan pemikirannya. Adamlah yang menamai binatang-binatang dan yang memelihara taman. Yang perlu diperhatikan adalah apabila pemakaian akal budi dan pengembangan pemikiran manusia itu dilakukan secara berdiri sendiri atau terlepas dari Allah, maka hal-hal itu akan memimpin kepada ketidakbenaran dan kesalahan. Tetapi apabila kedua hal itu dipergunakan dalam kebergantungan kepada penyataan Allah, maka kebenaran yang akan diketemukan. Menggunakan akal budi dan mengembangkan pemikiran itu sendiri tidaklah berlawanan dengan iman atau kebenaran.

Kedua, logika tidaklah berada di atas fakta perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan. Pada saat kita berbicara tentang manusia dalam menggunakan akal budinya, kita harus ingat bahwa logika hanya merupakan refleksi dari hikmat dan pengetahuan Allah. Meskipun dalam Firman Tuhan, Allah merendahkan diri dan menyatakan diri-Nya dengan istilah yang sesuai dengan daya pikir, logika manusia, namun itu tidak berarti logika manusia berada di atas atau sejajar dengan Allah dan juga tidak merupakan bagian dari keberadaan Allah. Logika dalam bentuk-bentuk yang paling kompleks dan tajam tetap berada dalam ruang lingkup ciptaan dan kualitasnya sesuai dengan kualitas manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan dengan kualitas Allah itu sendiri.

            Oleh karena logika merupakan bagian dari ciptaan maka logika memiliki keterbatasan. Pertama terlihat dari logika sebagai sistem yang selalu dalam proses berubah dan berkembang. Bahkan ada beberapa sistem logika yang dalam titik tertentu berlawanan satu sama lain. Bahkan tidak ada definisi dari "kontradiksi" yang diakui secara universal. Meskipun apabila semua manusia dapat sepakat dalam satu sistem untuk mengembangkan suatu pemikiran, logika manusia tidak dapat dipergunakan sebagai hakim untuk menentukan kebenaran dan ketidakbenaran.

            Kekristenan pada hal-hal tertentu dapat dikatakan masuk akal dan logis tetapi logika menemui batas kemampuan pada saat diperhadapkan dengan hal-hal seperti inkarnasi dari Kristus, dan doktrin Tritunggal. Logika bukanlah Allah dan tidak boleh diberikan penghormatan yang hanya dimiliki oleh Allah saja. Kebenaran hanya ditemukan pada penghakiman Allah bukan pada pengadilan logika. Oleh karena itu kita harus berhati-hati untuk menghindari dua ekstrim yang biasanya diambil dalam hubungan dengan penggunaan akal budi dan logika. Di satu pihak ada manusia yang menolak untuk menggunakan akal budi dan setuju pada iman yang buta. Di lain pihak, ada manusia yang memberikan logika sejumlah ruang untuk berdiri sendiri dan terlepas dari Allah. Kedua posisi tersebut tidak sesuai dengan karakter manusia sebelum kejatuhan. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan pemikirannya tetapi dia diharapkan untuk menyadari keterbatasan pemikirannya dan kebergantungan akan logikanya kepada Penciptanya. Soli Deo Gloria
(Sumber: John M. Frame: Menaklukan Segala Pikiran Kepada Kristus