Minggu, 15 Desember 2019

HIDUP BERSAMA: Sebuah Refleksi Terhadap Mazmur 133:1-3

Oleh: Made Nopen Supriadi
       Mazmur 133:1-3 adalah salah-satu Mazmur Ziarah. Mazmur ziarah merupakan tulisan yang menunjukkan keriduan Pemazmur berjalan menuju tempat yang kudus. Dalam Kitab Mazmur ada 15 Mazmur Ziarah, yaitu Mazmur 120-134. Dalam Mazmur Ziarah ada beberapa latar belakang yang perlu kita tahu, yaitu:

     1.      Ziarah menunjuk kepada kerinduan Daud kembali ke Yerusalem pada waktu dia keluar dari Yerusalem karena dikejar-kejar musuh. 
      2.      Ziarah menunjuk pada Salomo yang merindukan anak-anaknya datang kepada Tuhan.
      3.      Ziarah yang menunjuk umat Israel datang ke rumah Tuhan.

         Mazmur 133 menunjuk kepada latar belakang yang ke tiga. Jadi Daud menggubah Mazmur ini untuk mengingatkan umat Israel yang datang ke rumah Tuhan bersama-sama. Dalam terjemahan NIV istilah 'diam bersama' dituliskan dengan 'live together' yang artinya 'hidup bersama'. Maka istilah 'Hidup Bersama' dalam pembahasan ini menunjuk kepada kebersamaan manusia datang ke rumah Tuhan dan berada bersama di rumah Tuhan. Oleh karena itu melalui firman Tuhan ini kita akan belajar apa yang ditekankan dalam Pemazmur, ketika manusia 'hidup bersama'?.

      1.      Kebersamaan dalam Persatuan (ay. 1)11
         Istilah ‘diam bersama dengan rukun’ (NIV: Brothers live together in unity). Memiliki arti saudara-saudara hidup bersama dalam kesatuan. Jadi kebersamaan datang ke rumah Tuhan, juga diwarnai dengan rasa kesatuan. Konteks Alkitab menunjukkan bahwa Umat Israel memiliki 12 suku, Daud mengharapkan mereka tetap memiliki kesatuan dalam kebersamaan mereka datang ke Bait Suci. Lalu saat datang ke Bait Suci bukan hanya ada orang Israel, tetapi bangsa luar juga hadir, sehingga persatuan dalam kebersamaan datang ke rumah Tuhan, tidak hanya kepada pada orang-orang satu Kerajaan, tetapi juga dari luar kerajaan.
       Tuhan Yesus juga mengajarkan para Murid agar membangun sikap positif dan baik kepada orang-orang di luar Suku Isarel. Kisah Yesus dan perempuan Samaria menunjukkan bagaimana Yesus memberikan sebuah prinsip bahwa kebersamaan dalam Kebersamaan menembus batas-batas tradisi, suku dan bangsa. Dalam membangun kesatuan ada banyak problematika yang dihadapi, salah satunya adalah megalomania, hal ini merupakan sebuah kondisi dimana manusia merasa lebih besar dari yang lainnya. Tuhan Yesus pernah menghadapi masalah ini saat bersama dengan para Murid, ketika Yohanes dan Yakobus 'berambisi' untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus (Mat. 20:20-28). Namun Tuhan Yesus mengatasi pemahaman tersebut dengan memberikan prinsip jika ingin menjadi yang terutama maka menjadi hamba bagi semuanya.
         Kesatuan dalam kebersamaan merupakan prinsip penting yang perlu dibuat dalam sebuah persekutuan. Kebersamaan tanpa perskeutuan maka kebersamaan tersebut adalah kebersamaan yang palsu. Kesatuan memang penting, namun untuk mewujudkannya tidaklah mudah, sejarah menunjukkan ada banyak ancaman dalam kesatuan Gereja, baik eksternal maupun internal. Oleh karena itu sangat penting membentuk sebuah kebersamaan dalam kesatuan, meskipun sulit namun setiap orang percaya setidaknya telah berusaha membangun kesatuan.

      2.      Kebersamaan dan Kekudusan (ay. 2)
          Minyak yang baik yang meleleh dari janggut ke jubah Harun menunjukkan minyak yang baik tersebut berfungsi sebagai pengurapan untuk Harun. Dalam Keluaran 30:30 menyatakan bahwa Harun dan anak-anaknya diangkat menjadi Imam bagi umat Israel dan sebelum memegang jabatan imam maka Harun dan anak-anaknya diurapi dengan minyak urapan kudus. Hal tersebut menunjukkan pengudusan dalam pentahbisan Harun. Demikian juga Kebersamaan yang dituliskan Daud bukan hanya Kebersamaan yang memiliki kesatuan, tetapi Kebersamaan yang juga memiliki kekudusan.
       Ada kelompok teroris mereka bersekutu dan bersatu tetapi bersama-sama untuk melakukan aksi terorisme, apakah demikian juga dalam kehidupan keKristenan di Gereja?. Karena itu yang membedakan Gereja dengan dunia adalah adanya nilai kekudusan dalam sebuah Kebersamaan yang bersatu. Calvin menuliskan: "Jika Allah menerapkan standar kekudusan-Nya maka semua orang Kristen akan keluar dari Gereja. Namun tetaplah bersyukur jika hanya satu langkah kecil atau sedikit perubahan yang terjadi, itu artinya masih ada harapan."
        Oleh karena itu Gereja tidak cukup hanya membangun kesatuan, tetapi hendaknya mengikat kesatuan dengan kekudusan. Jika kesatuan Gereja tidak diikat dengan kekudusan, maka munculnya sebuah kondisi di mana dosa mengisi sebuah kesatuan Gereja atau pun sebuah persekutuan. Kasus demikian telah terjadi pada waktu Tuhan Yesus hadir di Bait Suci, Ia melihat banyak orang bersatu bersama-sama di Bait Suci untuk berjualan dan di dalamnya mereka melakukan sebuah kejahatan, sehingga Tuhan Yesus mengusir mereka. Kemudian para imam-imam di Bait Suci yang bersatu namun memikirkan hal yang berdosa, yaitu mereka memikirkan rencana untuk membunuh Yesus. Dengan demikian celakalah Gereja!, jika bersatu namun tanpa kekudusan, maka Gereja tersebut atau lembaga rohani apa pun hanya akan menjadi alat setan, untuk merusak kehidupan orang percaya. Maka Gereja sangat perlu membangun kesatuan dan juga kekudusan.

      3.      Kebersamaan  yang Menghidupkan (ay. 3)
          Daud dalam perenungannya, melihat bahwa kebersamaan orang-orang yang datang berziarah, tidak hanya cukup mereka membangun kesatuan dan kekudusan, tetapi perlu untuk menciptakan suasana yang hidup dalam persekutuan. Dalam ayat ke 3 menunjukkan Gunung Hermon adalah gunung yang berada di sebelah Utara Israel dan Gunung Sion ada disebelah selatan Israel, jarak Gunung Hermon ke Gunung Sion adalah 400 KM. Apakah mungkin embun dari Hermon menuju ke Sion?. Tidak mungkin. Gunung Hermon memiliki embun atau es, embun dan es yang mencair mejadi sumber air bagi sungai Yordan. Air sungai Yordan inilah yang dimanfaatkan menjadi sumber air yang memberi kehidupan bagi umat Israel di Sion.
         Jadi Daud mengharapakn agar Umat Israel membentuk Kebersamaan yang tidak hanya bersatu dan kudus, tetapi memberikan kehidupan. Kebersamaan yang bersatu dan kudus tanpa memberikan kehidupan, sama seperti sebuah Kebersamaan yang terikat pada legalitas agama. Jika tidak kudus maka tidak bisa bersekutu, jika berdosa maka tidak bisa bersekutu dengan Tuhan. Apakah demikian konsep dalam iman Kristen?. Tuhan Yesus menunjukkan kasus dimana manusia bersekutu namun terikat legalisme, yaitu ketika kelompok orang Farisi, ahli Taurat dan Para Imam Bait Suci yang memandang hina orang berdosa, perempuan yang berzinah, orang yang miskin, pemungut cukai dan orang yang di salib dipandang hina. Mereka bersekutu? Ya!. Mereka bersatu? Ya!. Mereka menjaga kekudusan lahiriah? Ya!. Tapi kelompok mereka memberikan rasa kematian kepada orang-orang berdosa. Tuhan Yesus justru menunjukkan bahwa Ia datang kepada orang yang sakit, baik jasmani dan rohani. Datang kepada orang yang miskin, baik materi dan rohani.
          Tuhan Yesus memberikan gambaran sebuah Kebersamaan yang kudus namun tidak terikat oleh legalisme yang mematikan. Tuhan Yesus mengajarkan sebuah Kebersamaan yang bersatu, kudus dan memberi kehidupan. Ungkapan ’Kesanalah Tuhan memerintahkan berkat’ menunjukkan bahwa sumber berkat adalah Tuhan. Sebagai sumber berkat Tuhan memerintahkan berkat tersebut tertuju kepada umat Israel yang pergi bersekutu ke rumah Tuhan. Artinya bukan karena hebatnya Kebersamaan maka berkat pasti diberikan Tuhan. Tetapi karena Tuhan memberkati maka Kebersamaan memberikan kehidupan. Bahkan Kebersamaan tersebut membawa manusia untuk menikmati sebuah kehidupan yang bernilai. Dengan demikian jika dalam kebersamaan, telah berhasil menciptakan kesatuan, kekudusan dan kehidupan namun tidak ada hak untuk menuntut Tuhan memberkati kebersamaan tersebut. Karena Tuhanlah yang berhak memberikan berkat tersebut.

Penutup
        Hidup bersama itu perlu, namun dalam kebersamaan juga harus menjaga prinsip-prinsip penting, yaitu dengan memiliki kesatuan, kekudusan dan kehidupan. Ketiga prinsip tersebut perlu diseimbangkan dalam sebuah Kebersamaan. Kesatuan yang baik dan indah memperlihatkan kekudusan dan kekudusan yang sejati memberikan kehidupan. Soli Deo Gloria.

(Tulisan ini sudah dikhotbahkan di Pos PI GEKISIA Kota Bengkulu, di Kelapa, Bangka
pada 15 Desember 2019).





Rabu, 21 Agustus 2019

THEOLOGIA SALIB

Salib: Bukti Kasih dan Keadilan Allah, Penderitaan dan Kemenangan Bagi Orang Percaya.

Salib adalah sebuah simbol dalam iman Kristen. Dalam simbol itu memiliki makna Kasih dan Keadilan Allah.
Allah itu adil sehingga dosa pasti dihukum. Namun Allah itu kasih, sehingga Ia menghukum dosa dengan kasih-Nya. Kasih-Nya dalam menghukum dosa dibuktikan dengan memberikan Diri-Nya sendiri yang menanggung hukuman dosa. Itu adalah konsep Allah yang Mahakasih. Tidak ada tempat dan satu simbol manapun yang dapat memberikan bukti pertemuan kasih dan Keadilan Allah. Hanya di dalam Saliblah terjadi pertemuan kasih dan Keadilan Allah. Ketika memandang Salib kita teringat betapa kita manusia berdosa dan layak dihukum disinilah keadilan Allah kita rasakan, tetapi pada saat yang sama kita juga mengerti di Salib juga kita menerima bukti nyata kasih Allah, bahwa hukuman dosa kita telah diselesaikan oleh Yesus Kristus, sehingga ketika memandang Salib kita teringat akan Allah yang maha kasih.
Salib merupakan simbol kasih dan Keadilan Allah. Di dalam salib kita mengerti bahwa Allah telah mendamaikan kita dengan Diri-Nya, di dalam Salib kita melihat bahwa bentuk Vertikal menunjukkan bahwa salib memperdamaikan manusia dengan Tuhan, lalu bentuk Horizontal menunjukkan bahwa manusia diperdamaikan dengan sesama manusia.
Jadi ketika memandang Salib, kita mengerti sebuah konsep cinta kasih. Di dalam salib cinta kasih kepada Tuhan dan sesama terpancar. Di dalam salib pengampunan dinyatakan.

Salib juga mengingatkan manusia bahwa salib adalah simbol penderitaan. Setiap orang yang memandang salib harus mengerti bahwa hidup ini ada dalam pemderitaan, karena Yesus Kristus ketika di salib merasakan kelelahan, penderitaan, kesakitan dan kematian. Ketika kita memandang Salib maka kita diingatkan bahwa iman kita diperhadapkan dengan penderitaan. Hidup sebagai pengikut Kristus akan mengalami penderitaan. Namun pada saat yang sama pada waktu kita memandang salib, kita diingatkan akan sebuah kemenangan. Yesus meskipun merasakan penderitaan Salib, Ia menunjukkan kemenangan. Ia lelah di salib tetapi masih memikirkan kelelahan orang lain, Ia menderita di Salin tetapi masih memikirkan penderitaan orang lain, Ia akan mati di Salib tetapi memikirkan keselamatan orang lain, bahkan Ia diejek dan dicacimaki tetapi masih memberikan pengampunan, Ia berkata: "Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!". Yesus menunjukkan kemenangan atas penderitaan-Nya dan itu dibuktikan di atas kayu Salib. Saat di mana manusia bisa mengucapkan sumpah serapah dan caci maki karena rasa sakit di Salib justru Yesus tidak jatuh dalam dosa saat menderita, justru Ia menunjukkan kemenangan-Nya atas dosa saat di Salib. Bahkan kemenangan itu semakin nyata saat Ia benar-benar taat menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya. Ia bisa saja memakai otoritasnya untuk menghindarkan diri dari penderitaan Salib, tetapi Ia taat dan menang atas keinginan daging.
Dengan demikian ketika kita memandang Salib kita sadar kita akan menderita tetapi kita juga disadarkan bahwa kita dapat menang dalam menghadapi penderitaan, karena kita mengingat Yesus yang menang atas penderitaan di Salib.
Penutup
Salib menunjukkan keadilan dan kasih Allah. Salib menunjukkan penderitaan dan kemenangan. Berita tentang Salib memang banyak dibenci, namun makna kehidupan terdalam memancar dari Salib. Salib bukan sekedar simbol yang harus terpakai, tetapi salib adalah simbol yang harus dihidupi dalam keseharian orang percaya. Dengan menghidupi salib maka cinta kasih kepada Tuhan dan sesama terpancar dari diri seorang Kristen.

Mezbah = Salib
Dalam konteks PL, Allah menetapkan hukum penghapusan dosa dengan cara memberikan korban penebusan dosa yaitu Domba yang tidak bercacat. Korban tersebut dipersembahkan di atas Mezbah. Lalu apakah orang Kristen masa kini masih melakukan hal itu jika ingin menebus dosanya?... Tidak!.

Dalam konteks PB, Allah telah menggenapi hukum penghapusan dosa dengan cara memberikan korban penebusan dosa yang sempurna, yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus disebut dalam Injil Yohanes 1:29 sebagai "... Anak domba Allah, yang menghapus dosa manusia." Yesus sebagai penggenapan dari korban yang sempurna dalam menebus dosa. Yesus Kristus sebagai korban yang sempurna rela mengorbankan Diri-Nya di Kayu Salib.

Jika kita melihat dalam PL mezbah adalah tempat meletakkan korban penebus dosa yaitu Domba yang tak bercacat. Dalam PB Salib adalah tempat meletakkan korban penebus dosa yang sempurna yaitu Anak domba Allah Yesus Kristus. Jadi mezbah dalam PL adalah bayangan dari Salib dalam PB. Salib dalam PB memberikan terang untuk memahami penggenapan pengorban korban penebus dosa do atas mezbah.

Jadi di Saliblah kita melihat nilai pengorbanan yang begitu agung. Yesus Kristus rela mengorbankan Diri-Nya menjadi tebusan dosa banyak orang dan itu hanya dilakukan satu kali (Ibr. 9:28). Maka ketika kita menghidupi makna salib kita menjadi pengikut Kristus yang siap hidup dalam pengorbanan. Yesus mengorbankan hidup-Nya bagi manusia yang berdosa, maka kita juga harus siap berkorban agar manusia yang berdosa mengerti pengorbanan Kristus yang menebus dosa. Pengorbanan Kristus adalah pengorbanan yang menggantikan (subtitusi) hukuman, murka Allah atas manusia yang berdosa ditumpahkan kepada Yesus Kristus, sehingga siapa yang percaya kepada Yesus tidak ada di bawah hukuman murka Allah. Karena salib Kristus telah menjadi tanda pengorbanan dan kasih Allah.
Oleh karena itu membangun mezbah keluarga artinya keluarga Kristen harus menghidupi makna salib dalam keluarganya. Mezbah keluarga sejati adalah karya Salib Kristus. Keluarga yang membangun mezbah keluarga melihat dan mengerti makna salib yang menunjukkan cinta kasih, keadilan, pengorban, Penderitaan dan kemenangan.
Soli Deo Gloria

Ditulis oleh: Made N. Supriadi (23/08/2019)

Ditulis oleh: Made N. Supriadi (21/08/2019)