Minggu, 04 September 2022
"Manusia Takut Akan Tuhan" (Pengkhotbah 3: 14-15)
Minggu, 14 Agustus 2022
KERJAKAN KESELAMATANMU (Filipi 2: 12-18; Efesus 2: 1-10)
Sebuah negara yang telah merdeka perlu mengisi kemerdekaan dengan membangun banyak aspek di dalam negara tersebut, membangun ekonomi, militer dan pertahanan, politik, pendidikan, teknologi, hukum negara dan banyak lagi. Jika suatu negara tidak membangun negaranya maka kemerdekaan yang telah didapatkan dapat terancam diambil oleh negara lain. Saat ini kita melihat ada banyak negara terlilit hutang sehingga kedaulatan negara menjadi kacau salah satunya Sri Langka. Negara yang mengalami tekanan militer setelah merdeka saat ini terhadi perang antara Rusia dan Ukarina. Dalam sejarah tanggal 5-10 Juni 1967 terjadi perang 6 hari antara Israel – Mesir, Yordania dan Suriah dan dimenangkan oleh Israel yang baru merdeka tahun 1948. Hal tersebut menunjukkan kemerdekaan adalah kesempatan untuk membangun dan mengisi sebuah negara dengan hal-hal yang berkualitas dan baik. Demikian juga dengan orang Kristen yang sudah merdeka. Apakah anda yakin sudah merdeka dari dosa? Jika sudah merdeka dari dosa apa yang perlu dilakukan? Maka melalui firman Tuhan ini ada 5 hal yang perlu dipahami oleh orang Kristen sejati setelah dimerdekan oleh Tuhan.
1. Allahlah yang
mengerjakan (ay. 13).
Kemauan dan pekerjaan yang baik
sejatinya adalah karena Allah yang bekerja. Roh Kudus memimpin manusia kepada
Kebenaran dan membimbing manusia menghasilkan buah roh (Gal. 5:22-23). Efesus
2:1-10 menunjukkan sebuah rangakaian penting dalam pekerjaan Allah yang
menghidupkan manusia yang telah mati karena dosa di dalam dan melalui Yesus
Kristus serta mandat melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah
sebelumnya. Doktrin Anugerah ini dikenal dengan istilah ”sola gratia” hanya oleh anugerah kita diselamatkan. Ada perdebadaan
penting antara negara yang merdeka dan manusia yang dimerdekakan oleh Tuhan.
Negara yang merdeka perlu mengisi kemerdekaannya dengan membuat
kebijakan-kebijakan penting bagi negara. Tetapi manusia yang dimerdekakan
adalah manusia yang telah mati di dalam dosa dan rusak oleh dosa, sehingga
setelah manusia dimerdekakan oleh Tuhan, maka manusia tetap bersandar pada
anugerah Tuhan melalui pimpinan Roh Kudus manusia dapat mengisi kemederkaannya
dari dosa. Sebuah benda yang telah rusak dan kita perbaiki, maka benda tersebut
perlu selalu perawatan dari kita agar tetap dalam kondisi baik. Maka dengan
demikian hidup kita sebagai orang Kristen sejati, kita hidup karena
pemeliharaan Roh Kudus.
2. Melakukan
Segala Sesuatu Yang Baik (ay. 14).
"Segala sesuatu" menunjuk
kepada "segala yg dikehendaki Tuhan" (ay. 13). Hal ini dapat kita
pahami pada Filipi 2: 2-7 yang telah dijelaskan oleh rasul Paulus sebelumnya.
a.
Kesatuan
(Fil. 2:2-3)
Karena itu sempurnakanlah sukacitaku
dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu
tujuan.
b.
Mengutamakan Sesama (ay.3-4)
Dengan tidak
mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah
dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada
dirinya sendiri;
dan janganlah
tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan
orang lain juga.
c.
Menjadi Hamba (ay. 5-7)
Hendaklah kamu
dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam
Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa
Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Lakukan segala sesuatu dengan tidak
bersungut-sungut (complain) dan betbantah-bantah (question / argument). Hal-hal
yang baik dan benar tidak perlu dicomplain dan ditanyakan. Tinggal dilakukan.
Namun seringkali manusia berdosa mempertanyakan hal-hal yang baik. Tetapi
hal-hal yang salah berharap tidak ditanyakan. Adakah manusia yang siap
ditanyakan hal-hal buruknya? Melakukan segala sesuatu yang baik yang dari pada
Tuhan adalah prinsip orang Kristen yang telah dimerdekakan.
3. Hidup Beres
di Hadapan Tuhan (ay. 15)
Tidak bermain, tidak bernoda, tidak
Bercela dan tidak bengkok hati. Namun bercahaya seperti bintang yang menyinari
bumi. Hal ini menunjukkan kehidupan orang Kristen perlu beres di hadapan Tuhan.
Ada banyak hal yang bisa membuat orang Kristen hidup tidak beres, apakah karena
masalah moral, masalah harta dan masalah jabatan. Fenomena beberapa waktu ini
ada banyak orang yang statusnya Kristen mendapatkan jabatan-jabatan penting
dalam institusi pemerintahan namun apakah tidak mewasapadai ancaman moralitas,
harta dan tahta. Akibat fokus pada jabatan moral dikorbankan, akibat fokus pada
harta spiritualitas dikorbakan. Sehingga ini menjadi PR bersama bagi kita
semua, yaitu menjadi orang Kristen yang merdeka yaitu orang Kristen yang
berkata benar, karena hanya kebenaran yang memerdekan tetapi kebohongan
mengikat manusia pada penyesalan. Dengan demikian mengerjakan keselamatan
adalah membereskan hidup di hadapan Tuhan.
4. Berpegang
Pada Firman Kehidupan (Logon Zoes / the word of life) (ay. 16).
Mengerjakan keselamatan tidak bisa
terlepas dari pada berpegang pada Alkitab. Adalah doktrin penting Kristen yang
menjadi pillar pada masa reformasi gereja abad ke XVI yaitu "Sola
Scriptura" hanya Alkitab saja sebagai sumber pengajaran. Orang Kristen
bisa saja masih terjebak pada pengajaran-pengajaran di Luar Alkitab, bahkan
lebih menyukai sebuah pengajaran yang menyenangkan telinga, yaitu Injil yang
lain. Rasul Paulus menyatakan dalam surat Galatia celakalah orang yang
mengajarkan Injil yang lain, yaitu Injil yang tidak menambahkan atau mengurangi
tentang karya Kristus. Paul Washer mengatakan pemberitaan Injil yang benar itu
bisa menyakiti hati kita tetapi setelah itu memberikan kesembuhan. Pemberitaan
Injil yang benar memberikan dua dampak, Stephen Tong menyatakan ketika Injil diberitakan
maka ada kuasa menghakimi dan kuasa menyelamatkan. Siapa kita di hadapan Tuhan?
Kita adalah manusia berdosa bahkan kebaikkan kita adalah seperti kain kotor,
maka tidak ada di antara kita yang terluput dari penghakiman Injil namun
bersyukurlah jika kita merasakan penghakiman Injil dan kita mau bertobat dari
dosa-dosa yang kita sembunyikan maka disinilah anugerah dirasakan. Dengan
demikian mengerjakan keselamatan adalah membereskan hidup di hadapan Tuhan,
menjadikan hidup bercahaya bagi kegelapan dunia seperti bintang di malam hari.
5. Pengorbanan
(ay. 17)
Demi ibadah iman jemaat di Filipi Rasul
Paulus siap jika hal itu sampai mencurahkan darahnya, hal ini menunjukkan
pengorbanan Rasul Paulus demi persekutuan dan ibadah terwujud di jemaat Filipi.
Mengerjakan keselamatan adalah sebuah pengorbanan, Rasu Paulus menyatakan: ”celakalah
aku jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor. 9: 16). Rasul Paulus setelah
diselamatkan oleh Yesus Kristus dia mengerjakan keselamatan yaitu dengan setia
sampai akhir hidupnya memberitakan Injil. Bahkan ada banyak tantangan yang
dihadapi oleh rasul Paulus dalam memberitakan Injil, aniaya, penderitaan,
fitnah dan pengucilan serta penjara. Kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita
adalah kemerdekaan yang didapatkan melalui pengorbanan Yesus Kristus. Apa yang
pantas kita korbankan bagi Tuhan? William Carey (1761-1834) mempersembahkan
hidupnya untuk menginjili India agar ada orang-orang beribadah kepada Tuhan.
I.L. Nomennsen (1834-1918) mempersembahkan hidupnya untuk menginjili suku
Batak. Lalu apa yang telah kita persembahakan bagi Tuhan? 26 Juni 2008 adalah
pengalaman nyata dalam kehidupan saya secara pribadi untuk mempersembahkan
hidup bagi Tuhan. Jika bukan karena Tuhan yang berkarya tidak mungkin saya
mempersembahkan hidup ini, saya manusia berdosa, saya manusia yang tak bernilai
dan saya manusia yang tidak layak. Selanjutnya ada kisah John Sung (1901-1944)
seorang Ph.D Kimia dari Ohio State Univesity 1926, setelah menyelesaikan
studinya justru menyerahkan hidup kepada Tuhan untuk menginjili bahkan ia
dikenal sebagai ”Obor Allah di Asia” dan pernah ke Indonesia. Dengan demikian
mengerjakan keselamatan adalah mengorbankan hidup bagi Tuhan.
Penutup
Tuhan
sudah bekerja menyelamatkan kita, maka sekarang kita bekerja bagi Tuhan.
Keselamatan dari Tuhan tidak menjadikan kita pasif, tetapi kita menjadi aktif
memahami kebenaran, menjadi aktif melakukan beragam pelayanan bagi Tuhan dan
sesama, menjadi aktif untuk hidup tidak Bercela, menjadi aktif untuk bersaksi
sebagai surat Kristus, menjadi aktif membangun wawasan dunia Kristen disegala
bidang pekerjaan. Efesus 2: 10
menyatakan bahwa karena kita ini adalah ciptaan baru di dalam Kristus dan telah
diselamatkan oleh anugerah untuk melakukan pekerjaan baik yang telah
dipersiapkan Allah sebelumnya. Orang
Kristenkah saya saat ini????
Made Nopen
Supriadi, Khotbah KU I & II GEKISIA Kota Bengkulu (14/08/2022).
Kamis, 04 Maret 2021
Pengantar Perjanjian Lama: Benang Merah Sejarah Umat Israel
Sejarah disusun berdasarkan prinsip selesksi dan koneksi. Dalam perspektif Teologis semua sejarah telah ditetapkan oleh Allah. Dari sejarah umat Isarel kita melihat pemeliharaan Allah terhadap umat pilihan-Nya, maka demikian juga dengan kita di masa kini kita harus percaya pada pemeliharaan Allah. Dalam perspektif Theologia Reform mujizat terjadi dalam rangka pemeliharaan Allah atas kehidupan manusia saat ini. Oleh karena itu kita harus memandang dengan luas, yaitu dengan mau belajar dari sejarah. Tujuannya ialah kita tahu fakta sejarah dan kita bisa menambah hikmat dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tulisan ini terbatas hanya dalam konteks umat Israel dari Kitab Kejadian - Ester, oleh karena itu ketekunan dari pembaca sangat diharapkan untuk melengkapi sejarah tersebut sehingga betul-betul membentuk kesatuan Perjanjian Lama dalam persepketif historis. Soli Deo Gloria.
Minggu, 28 Februari 2021
IMAN & DELUSI (YOHANES 14: 21)
Harapan yang tidak bisa dilihat dengan mata jasmani dan dipegang dengan tangan, namun hal itu adalah sebuah kenyataan yang hanya dapat dimengerti oleh masing-masing manusia.Namun harapan juga dapat semakin kecil, ketika manusia diperhadapkan dengan banyak hal negatif dan kesulitan. Tidak ada banyak hal yang mendukung dan menyakinkan untuk mencapai harapan tersebut. Sebagai contoh: ketika manusia berharap ingin bisa menikah, namun belum juga mendapatkan orang yang mau menerima dirinya maka harapan untuk menikah menjadi kecil. Apalagi jika ada orang tua yang berharap akan dapat menimang cucu, namun melihat kondisi tidak menyakinkan dan tidak mendukung karena anaknya belum menikah, maka harapan menjadi kecil bahkan bisa terjatuh dalam keputus asaan. Dengan demikian secara umum setiap manusia memiliki pengharapan dan harapan tersebut bisa semakin besar dan kecul berdasarkan dari sesuatu yang mampu meyakinkan dirinya.
Mari kita refleksikan dalam konteks rohani. Manusia memiliki harapan, jika mati maka harapannya masuk surga. Untuk memperbesar harapan tersebut maka manusia melakukan banyak hal untuk memberikan keyakinan bahwa harapan masuk ke surga semakin besar. Manusia berbuat baik, melakukan kegiatan sosial dan banyak menolong sesama, hal-hal demikian dirasakan memberikan dasar keyakinan bahwa ia akan masuk surga. Namun tak kala manusia mendapatkan sebuah panggilan Injil, Roh Kudus memimpin manusia kepada kebenaran dan ketika membaca Alkitab menemukan fakta bahwa "semua manusia berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Rom. 3: 23) maka manusia yang pertama telah memiliki harapan yang besar menjadi merenung dan bertanya apakah benar saya akan dapat masuk surga?. Harapan yang besar yang dibangun dengan perbuatan baik, dengan aksi sosial dan suka menolong sesama mulai goyah dan mengcil, keraguan mulai muncul, perbuatan baik tidak mampu memberikan keyakinan apakah bisa ke surga. Lalu ketika kembali membaca Alkitab maka diingatkan bahwa "tidak ada yang benar seorang pun tidak" (Rom. 3: 10). Maka semakin mengecilah harapan manusia yang ingin ke surga, perbuatan baik mulai gagal meyakinka untuk ke surga. Ditambah lagi ketika manusia membaca Alkitab dan menemukan pernyataan: "sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu (Taurat), tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya." (Yak. 2: 10). Maka semakin kecil dan habislah harapan manusia untuk kesurga. Manusia mulai mempertanyakan di dalam dirinya apakah saya telah melakukan seluruh hukum Taurat dengan benar dan sempurna?. Maka Roh Kudus yang bekerja akan menyakinkan manusia bahwa betapa berdosanya manusia dan tidak ada kesempatan masuk ke surga dengan perbuatan baik. Maka pada titik ini, perbuatan baik yang dilakukan tidak mampu memberikan harapan yang besar kepada manusia, manusia telah kehilangan harapan dan putus asa karena tidak ada kepastian apakah setelah mati saya masuk surga?.
Selanjutnya Roh Kudus memimpin manusia untuk terus membaca kebenaran Injil, maka manusia mendapatkan pernyataan Alkitab bahwa hanya karena kasih karunia maka manusia diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil perbuatan manusia tetapi pemberian Allah, sehingga manusia tidak bisa memegahkan diri (Ef. 2: 8-9). Ketika Roh Kudus menuntun manusia semakin memahami kebenaran, maka Injil menuntun manusia kepada Yesus Kristus. Manusia ditunjukkan kepada pribadi dan karya Yesus. Manusia menemukan Yesus yang secara pribadi mampu melaksanakan hukum Taurat dengan sempurna dan Yesus juga yang menggenapi pelaksanaan penghukuman atas manusia yang gagal dan terkutuk di bawah kuasa hukum Taurat. Manusia semakin dibawa untuk menyadari kebutuhannya akan keselamatan, Yesus berkata ketika Ia datang nanti apakah Ia akan menemukan iman di bumi?. Dengan demikian Allah bukan lagi melihat perbuatan baik, tetapi adakah iman manusia yang meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang telah mati menggantikan manusia yang berdosa. Pada titik ini maka manusia mulai memiliki pengharapan akan keselamatan, keyakinan untuk hidup di surga muncul karena Yesus Kristus yang menjamin, maka iman memperbaharui pengharapan manusia dan meneguhkan pengharapan manusia akan kehiduapn kekal di Sorga. Dengan demikian manusia berada pada titik kehidupan iman yang sejati di dalam keselamatan.
Kedua, ungkapan selanjutnya yaitu tentang iman adalah bukti segala sesuatu yang tidak kita lihat. Pernahkah kita bertanya, kenapa ada bumi, kenapa ada matahari dan kenapa ada bulan?. Kenapa ada musim, laut, pemandangan alam dan alam semesta yang teratur?. Kenapa bisa demikian?. Pertanyaan tersebut akhirnya mampu dijawab dan membuat hati manusia tenang ketika manusia meyakini bahwa karena 'Tuhanlah maka semua tercipta dan terpelihara.' Namun coba manusia mentiadakan Tuhan untuk menjawab pertanyaan tersebut?. Maka manusia pasti akan memiliki rasa bingung dan ketidakmampuan untuk bisa memberikan penjelasan detail tentang hal tersebut, karena manusia perlu membangun teori-teori dan teori-teori tersebut perlu mendapatkan sebuah pengakuan. Namun sehebat apapun teori belum mampu untuk memuaskan adanya keyakinan iman bahwa Tuhanlah yang beperan utama dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta. Meksipun di masa yang akan datang Tuhan akan membukakan hikmat kepada manusia lebih dalam dan banyak untuk mengetahui misteri alam semesta, namun pada masa kini keyakinan iman tetaplah memiliki peranan penting untuk menjawab sesuatu yang tidak mampu manusia lihat kembali, yaitu masa lalu dan masa yang akan datang.
Dalam kaitan dengan iman dan keselamatan, manusia tidak pernah melihat Yesus, tidak pernah melihat surga atau neraka. Namun di dalam diri manusia memiliki sebuah keyakinan bahwa Yesus telah memulihkan kehidupannya, keyakinan akan kelahiran baru, keyakinan akan iman, keyakinan akan pertobatan dan keyakinan akan menjalani hidup yang baru, bahkan manusia merasa telah melihat surga sekalipun tidak benar-benar melihat secara mata jasamni, namun iman yang sejati menjadikan nyata apa yang manusia belum bisa lihat. Manusia juga memiliki keyakinan bahwa Alkitan adalah firman Allah dan mempercayai isi Alkitab sebagai kebenaran darimanakah sumber keyakinan ini?. Siapakah yang memberikannya?. Maka inilah iman Kristen yang sejati, ia bukan sekedar keyakinan yang bersandar pada perasaan dan pikiran tetapi berdasar pada Alkitab.
Dalam Yohanes 14: 21 Yesus berkata barasiapa "memegang perintah-Ku" ungkapan tersebut merupakan sebuah kata kerja yang memiliki makna "memiliki dan mengingat perint Yesus". Artinya manusia mampu mengingat perintah-perintah Allah. Dalam sebuah situs website mencatat ada 7 orang yang mampu menghapal ayat-ayat Alkitab dengan sangat banyak:
1. Charles matlock, seorang penginjil tradisional Amerika yang dikenal sebagai "Alkitab berjalan dari Tennessee Bart" menghafalkan hampir seluruh bagian Alkitab. Charles Matlock mulai menghafalkan sejak usia 12 tahun. Ia mengembangkan kemampuannya dari menghafalkan tugas sekolah kepada menghafal Alkitab.
2. Dr. William Evans menulis buku berjudul How to Memorize the Bible pada tahun 1919. Ia dapat menghafalkan seluruh Alkitab versi King James Version dan seluruh bagian Perjanjian Baru dalam Versi American Standard Version.
3. Van Impe, menghapal 14.000 ayat (hampir setengah Alkitab) setelah 35.000 jam menghafalkannya. Ia menerapkan metode dengan kartu dan menhapal ayat sesuai dengan topik doktrin.
4. Jon Goetch, wakil presiden eksekutif di West Coast Baptist College menghafal lebih dari 14.000 ayat. Ia menghapal sambil berolahraga dan jalan kaki.
5. Nadine Hammonds seorang tunanetra yang berhasil menghafal puluhan Kitan dalam Alkitab.
6. Herdian Putranto, seorang mahasiswa Unair yang menghafal Alkitab sejak SMP.
Dalam kehidupan manusia ada beberapa tahapan penting ketika mempelajari tentang hukum Taurat, yaitu: membaca, menulis, menghafal, mengajar dan melakukan. Pada tahap membaca, menulis dan menghafal ada banyak manusia bisa melakukannya dengan sangat baik. Namun pada tahap mengajar dan melakukan maka semua manusia gagal melakukannya. Hal tersebut terlihat ketika Yesus Kristus menegur para murid agar waspada terhadap ragi orang farisi dan saduki yaitu ajarannya (Mat. 16: 5-12) dan teguran Yesus kepada orang-orang Farisi yang munafik (Mat. 23). Oleh karena itu iman yang sejati adalah iman yang bukan hanya mengaku percaya Yesus namun iman yang juga melakukan apa yang Yesus perintahkan.
Dalam Yohanes 14 merupakan konteks ketika para murid melakukan perjamuan makan bersama, dalam bagian Injil Lukas 22: 24-27 terjadi diskusi tentang siapakan yang terbesar di antara para Murid. Para murid terjebak dalam sebuah delusi, mereka berpikir bahwa mengikut Yesus akan menjadi yang terbesar dan memiliki kedudukan penting serta dilayani, delusi para Murid adalah megalomania (merasa diri besar). Para murid bersama Yesus namun ingin merasa diri lebih besar dari yang lain, akhirnya Yesus menyelesaikan delusi para murid dengan menyatakan bahwa siapa yang terbesar adalah yang melayani. Tindakan Yesus yang membasuh kaki para murid dalam Yohanes 13 menunjukkan sikap hamba kepada para murid. Dengan demikian, Yesus mengingatkan para murid agar tidak terjebak dalam sebuah delusi, yaitu megalomania. Yesus ingin para murid menjadi seorang pelayan dalam memberitakan Injil. Bahkan dalam mengasihi sesama.
Problematika delusi megalomania pada masa kini tidak hilang dalam gereja, kegagalan dalam melakukan perintah Yesus ialah ketika orang Krsiten mulai merasa diri lebih besar dari yang lain. Ketika manusia merasa lebih besar dari yang lain bahkan memiliki konsep penilaian bahwa sesamanya manusia lebih rendah, maka manusia ingin memposisikan diri sama dengan Tuhan. Iman yang sejati ditunjukkan dengan sikap saling mengasihi, bahkan Yesus memberikan perintah untuk "memikul salib." Ungkapan memikul salib pada konteks Yesus dipahamai sebagai hukuman mati, dengan demikian Yesus memberikan pengajaran jika ingin mengikut Yesus maka kita harus mengalami kematian, yaitu kita siap sedia dimatikan kehidupan lama kita dan kembali dihidupkan dengan kehidupan yang baru. Sebab hidup yang kita hidupi bukan kita lagi melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Istilah perintah menunjuk juga kepada hukum Taurat dan teladan Yesus Kristus. Ada konsep yang diperbaharui ketika Yesus Kristus telah hadir di dunia. Para murid yang awalnya sibuk menghafal hukum-hukum Taurat namun ketika mengikuti Yesus mereka melihat kesempurnaan Yesus dalam melakukan hukum Taurat dan mereka hanya tinggal mengikuti teladan dari Yesus Kristus. Sama seperti kita, siapa yang sanggup selalu membaca hukum Taurat dan menghafal, setelah itu melakukan?. Maka ini adalah sebuah kesulitan, namun jika kita membaca kisah Yesus maka kita mengerti teladan apa yang harus kita ikuti dari Kristus yaitu kasihnya kepada Bapa di Sorga dan sesama manusia. Dengan demikian iman yang kita hidup bukan sekedar delusi yaitu iman yang tanpa dasar, tetapi iman yang memiliki dasar dan fokus yaitu Yesus Kristus. (MNS). (Bahan Khotbah di GKY Bengkulu, 28/02/2021)
or reload the browser
or reload the browser
Minggu, 31 Mei 2020
MANDAT BUDAYA DAN MANDAT MISI DALAM KONTEKS PANDEMIK COVID-19
Oleh: Made Nopen SupriadiHal pertama yang perlu kita pahamai adalah bahwa pemberian mandat budaya kepada manusia di Kejadian 1:28 tidak berarti pengalihan kepemilikan atas alam semesta dari Allah kepada manusia. Seluruh bumi tetap menjadi milik Allah (Maz. 24: 1), juga binatang-binatang liar di padang dan di gunung (Maz. 50:10-12). Ulangan 22:6 mengajarkan perlunya manusia melestarikan kehidupan binatang. Apa yang dilakukan seseorang terhadap binatang bahkan akan mempengaruhi keadaa orang itu (Ul. 22:7). salah satu tujuan di adakannya hari sabat adalah supaya binatang dan para budak bisa beristirahat (Kel. 23:12). Allah bahkan mengatur penggunaan lahan untuk bertani/berladang, yaitu suatu ladang boleh dipakai secara terus-menerus selama 6 tahun, sesudah itu tanah itu harus dibiarkan begitu saja pada tahun ketujuh (Ul. 25:3-4). Ayub bahkan sadar bahwa ladang akan mendakwa dia apabila ia telah menyalahgunakannya (Ay. 31: 38-40). (Handoko, 2017)
Alkitab memberikan prinsip di mana Allah menghendaki agar manusia memberitakan pribadi dan karya Allah. Perintah tersebut telah dinyatakan dalam rancangan kekekalan Allah. Efesus 1:3-10 menunjukkan bahwa dalam pemilihan Allah sebelum dunia dijadikan di dalam Kristus manusia ditetapkan dalam kekudusan dan tak becacat di hadapan-Nya (bdg. Rom. 8:29-30). Rancangan tersebut telah ada dalam kekekalan, namun secara manusia realisasinya terjadi berdasarkan kehidupan manusia yang telah dipilih Allah di dalam Kristus akan menyaksikan pribadi dan karya-Nya. Dalam konteks kehidupan manusia perwujudan dari pemilihan Allah, membawa manusia dalam kehidupannya memberitakan tentang kebenaran Allah. Hal tersebut telah direalisasikan dalam penciptaan manusia yang pertama.Kejatuhan manusia ke dalam dosa membawa manusia gagal untuk menjadi utusan yang memberitakan pribadi dan karya Allah. Kisah Kain yang membunuh Habel menunjukkan bahwa akibat dosa bukan hanya menyebabkan manusia bisa mati secara fisik, tetapi manusia memiliki keberanian untuk mematikan sesama manusia. Hal tersebut terus berlanjut pada keturunan Kain. Dampak kejatuhan manusia ke dalam dosa menghadirkan banyak konflik-konflik dalam kehidupan manusia. Konflik tersebut telah merusak tatanan kehidupan relasional manusia secara sosial. Hingga saat ini dosa terus membawa manusia dalam kondisi yang rusak. Hal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan mandat bagi manusia untuk menjadi utusan Allah menjadi rusak. Manusia yang seharusnya hidupnya dipakai untuk menggarami dan menerangi dunia justru jatuh pada kondisi hidup yang rusak. Meskipun manusia telah mengalami kerusakan total (total depravity), Allah tetap memberikan manusia pilihan-Nya untuk memberitakan kebenaran. Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk memberitakan tentang penghukuman Allah atas dosa dan penyelamatan Allah bagi manusia. Dengan demikian mandat misi tetap terlaksana di tengah manusia yang berdosa, namun pelaksanaan itu tidak melibatkan seluruh manusia, hanya manusia yang dipilih, dintentukan dan dipanggil Allah.
Dari pembahasan di atas menunjukkan bahwa kerusakan dosa telah merusak natur manusia dan berdampak pada kehidupan manusia. Kerusakan akibat dosa memberikan pengaruh baik dalam realisasi mandat budaya dan mandat misi. Manusia gagal untuk berfokus untuk mempermuliakan Allah baik dalam mengembangkan peradaban dan gagal untuk bersaksi menjadi garam dan terang bagi dunia yang berdosa.
Yesus Kristus adalah penggenap Hukum Taurat. Sebagai Penggenap maka Yesus Kristus harus memenuhi standar telah mampu untuk melakukan Hukum Taurat dan menggenapi hukuman kegagalan melakukan Hukum Taurat yang dilakukan oleh manusia yang dipilih dalam keselamatan. Pada bagian ini akan memberikan sebuah refleksi bagaimana Yesus merealisasikan mandat budaya dan mandat misi. Yesus ketika Ia berinkarnasi maka Ia hidup dalam tradisi dan budaya yang telah ada. Namun Yesus sekalipun berada dalam sebuah budaya, Yesus justru tetap melakukan mandat budaya. Hal tersebut ditunjukkan dengan Yesus melakukan transformasi budaya, Yesus menegur kebiasaan yang berdosa yaitu penipuan, penyalahgunaan tempat ibadah, kemunafikan, kekerasan dan ketidakadilan. Banyak hal yang diperbaharui Yesus menjurus kepada prinsip pelaksanaan pola kehdiupan pada masa itu. Yesus tidak melarang membayar pajak kepada Kaisar jika itu memang telah ditetapkan oleh penguasa, namun Yesus melarang para pemungut pajak melakukan pungutan lebih dari apa yang telah ditetapkan. Yesus tidak melarang untuk memberi kepada Allah, namun Yesus melarang jika memberi kepada Allah dijadikan sebagai Alasan untuk mengabaikan pemeliharaan orang tua. Yesus tidak melarang pelaksanaan penghukuman, tetapi Yesus melarang jika pelaksanaan penghukuman tanpa pengadilan yang benar. Yesus tidak melarang para tokoh agama mengajar agama, tetapi Yesus melarang jika mengajar agama dalam hidup yang munafik. Dengan demikian Yesus tetap mengijinkan berkembangnya budaya saat itu namun Yesus lebih memfokuskan bagaimana perkembangan kebudayaan memiliki nilai-nilai Teologis yang benar. Hal tersebut menunjukkan bahwa Yesus dalam tindakan pribadi dan karya-Nya melakukan mandat budaya dan mandat misi bersama. Yesus dalam kebudayaan yang ada tetap memberitakan Kerajaan Allah, yang didalamnya berisi berita pertobatan dan penggenapan janji Mesias di dalam Diri-Nya. Sampai akhir hidupnya Yesus tidak menolak budaya atau tradisi yang menjadikan sarana penghukuman-Nya di kayu Salib, namun Yesus melalui budaya penghukuman Salib justru merealisasikan Misi-Nya. Dengan demikian dari kehdiupan Yesus kita dapat melihat bagaimana budaya dan tradisi sebisa mungkin dikaji dan ditemukan titik tarnsformasinya untuk membawa manusia memahami karya keselamatan. Di dalam Yesus kita dapat belajar sebuah intergrasi antara mandat budaya dan mandat misi.
Setelah karya penebusan Yesus Kristus, maka relasa manusia dan Allah dipulihkan. Pada waktu Yesus naik ke Sorga, maka Roh Kudus dijanjikan kepada para Rasul. Roh Kudus bekerja melahirbarukan manusia yang diselamatkan dan kondisi demikian membawa manusia memiliki kesadaran penuh akan tujuan dan sikap hidup, yaitu memuliakan Allah (Roma 11:36). Pembaharuan yang Roh Kudus kerjakan itulah yang memampukan orang yang percaya kepada Yesus untuk melaksanakan mandat budaya dan mandat misi (Bdg. Ef. 2:1-10). Roh Kudus yang memimpin orang percaya ke dalam kebenaran akan menolong orang percaya menerapkan kebenaran dalam kehdiupannya. Sehingga pada kondisi ini orang percaya akan mampu menjadi garam dan terang.
Pada masa pra-covid-19 pelaksanaan mandat budaya dan mandat misi bersifat normal. Manusia menjalin sosialisasi dan banyak yang selalu bersama dalam melakukan pengelolaan alam semesta. Manusia melakukan pengembangan peradaban dan ilmu pengetahuan dengan cara kebersamaan baik bersama dalam tempat maupun bersama juga dalam komunikasi. Namun fakta memperlihatkan sebelum pandemik covid-19 terjadi kebersamaan manusia dalam mengelola alam semesta menjadi hal yang membahayakan banyak ekosistem. Sehingga pelaksanaan mandat budaya banyak memperlihatkan degradasi lingkungan hidup. Dalam tindakan misi manusia telah terbiasa dengan pelaksanaan misi yang langsung hadir ke tengah-tengah masyarakat. Namun kita bisa melihat pada waktu pandemik covid-19 maka banyak kegiatan yang berhubungan dengan interaksi sosial menjadi dibatasi. Protokol kesehatan menganjurkan agar manusia melakukan social distancing, physical distancing, stay at home menjaga kesehatan diri dengan memakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun dan melakukan work from home (WFH). Kondisi demikian mempersulit gerakan manusia dalam melaksanakan pengelolaan alam dan sosialisasi. Pelaksanaan misi yang harusnya bersosialisasi kini tidak dapat dilakukan. Namun apakah hal tersebut mentiadakan pelaksanaan mandat budaya dan mandat misi. Sebelum masa pandemik covid-19 pelaksanaan mandat budaya telah terjadi dan banyak hal kerugian yang terjadi di alam semesta. Pelaksanaan mandat misi juga sudah banyak berkembang melalui media elektronik dan online. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam mandat budaya memang harus ada yang dibenahi, namun dalam mandat misi telah mampu mengantisipasi kondisi covid-19. Namun persoalan timbul, pada masa pandemik covid-19 ketika manusia semakin banyak memanfaatkan teknologi dan media sosial. Justru ada beberapa orang yang menggunakan media sosial untuk menyatakan ajaran yang salah dan tidak Alkitbiah. Kondisi ini semakin mendorong para pemberita Injil untuk mengambil bagian dalam melakukan apolohetika. Lalu dalam konteks mandat budaya, maka pada masa covid-19 menjadi sebuah waktu untuk melakukan refleksi terhadap sikap dalam mengelola dan menguasai alam semesta serta sikap dalam membangun moral peradaban. Beberapa waktu ini telah banyak berita yang menyiarkan akan adanya masa memasuki situasi hidup yang disebut dengan 'new normal.' Kondisi ini juga diharpkan dapat membawa sebuah pemikiran yang baru bagi manusia secara khusus orang percaya dalam mengelola alam semesta dan membangun peradaban yang juga melaksanakan mandat misi. Konsep hidup dalam 'New Normal' juga harus kita pahami sebagai hasil dari pemikiran mandat budaya, yaitu pengembangan pradaban hidup manusia. Namun di dalam kondisi hidup normal baru kita jangan sampai gagal menjadi saksi. Jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang hanya mau menggengam dunia dan isinya tapi tidak mau memuliakan Allah Tritunggal.
E. Penutup
Mandat Budaya dan Mandat Misi adalah mandat Allah Tritunggal kepada manusia. Mandat tersebut akan efektif terealisasi secara khusus dalam kehdiupan manusia yang dipilih ke dalam keselamatan. Karena kesadaran dan tanggung jawab mengelola alam semesta tidak terlepas dari kesadaran secara spiritual yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus. Pada masa kini pelaksanaan mandat budaya dan mandat misi tidak terhenti tetapi menyesuaikan dengan situasi yang terjadi pada masa pandemik covid-19. Oleh karena itu setiap orang percaya juga diajak semakin berpikir kreatif bagaimana tetap membangun peradaban dan kehidupan semakin baik dan juga membawa orang kepada Kristus di masa kini. Soli Deo Gloria.
Senin, 18 Mei 2020
Jumat, 15 Mei 2020
Tinjauan Teologis Tentang Persahabatan Dan Implementasinya Pada Masa Kini
Bagian ini membawa kita merenungkan status persahabatan kita kepada Yesus. Secara formalitas ada banyak manusia memiliki status sebagai orang Kristen. Namun perlu kembali diselidiki apakah benar karena kasih Kristus yang memanggil untuk menjadi Kristen. Persahabatan yang kamuflase bisa saja terjadi di dalam kehidupan orang Kristen. Simbol-simbol agama dan aktifitas rutin keagamaan bisa menutupi ketidaksejatian persahabatan dengan Kristus. Oleh karena itu Tuhan Yesus menegaskan bahwa karena Ia lebih dahulu mengasihi maka orang yang percaya dapat mengasihi. KeKristenan yang palsu akan menunjukkan penolakan terhadap Kristus baik terhadap pribadi dan karya-Nya. Sehingga ketika ada orang Kristen menolak kebenaran Kritus maka sejatinya ia ada dalam posisi musuh Kristus (extra tou Christou). Dengan demikian tindakan seorang Kristen yang melakukan perintah Yesus semata-mata karena refleksi kasih Yesus yang ada di dalam hidup-Nya.
Pada ayat 15. Tuhan Yesus menyatakan bahwa 'Aku tidak menyebut kamu lagi hamba'. Apakah artinya ketika percaya Yesus kita tidak menjadi hamba Kristus?. Atau ungkapan hamba Tuhan menjadi tidak relevan?. Oleh karena itu perlu dipahami maksud Yesus mengucapkan perkataan tersebut. Seorang Theolog bernama William Hendriksen menjelaskan bahwa: "Clearly implied in these words of Jesus is the thought that he is not satisfied with merely servile obedience. His Friends are motivated by friendship when they do his bidding. Oberdience is an expression of their love." Jadi Yesus sedang menekankan segi ketaatan. Ia menginginkan agar para Murid menunjukkan ketaatan jangan sebatas hamba tetapi ketaatan yang memiliki kedekatan sebagai sahabat. Namun perlu diperhatikan bahwa konteks perkataan Yesus adalah bersama dengan para Murid yang pada waktu itu benar-benar memiliki relasi sangat dekat (bdg. ay. 20). Dengan demikian status sebagai hamba tetap dimiliki oleh orang yang melayani Kristus. Namun dalam kehambaan tersebut hendaknya orang percaya juga menyadari bahwa dalam kehambaan itu juga tidak memudarkan nilai persahabatan. Sehingga melayani Kristus sebagai hamba-Nya dengan spirit kasih Yesus yang memberikan kedekatan secara spiirtual.
Pada masa kini para orang percaya yang melayani Kristus bisa memiliki sikap mengerjakan pelayanan karena ia adalah hamba. Namun seringkali karena kehambaan-Nya justru menengelamkan kesadaran bahwa Yesus mengasihi-Nya. Sehingga kedekata spiritualitas bersama Yesus menjadi tergeser karena status hamba yang harus melakukan segala hal. Ingat Yesus memang menginginkan kita melakukan perintah-Nya karena itu kita menjadi hamba-Nya, namun Yesus tidak menginginkan juga saat kita melakukan perintah-Nya sebagai hamba tidak memiliki kedekatan secara spiritualitas. Gambaran ini menunjukkan pelayan Kristen yang mengalami kekeringan rohani. Degradasi spiritualitas seringkalai terjadi karena sibuknya kita melakukan tugas sebagai hamba sehingga rasa malas untuk dekat kepada Sang Tuan terjadi. Maka jika demikian pelayanan seorang Kristen hanya karena ketakutan terhadap hukum dan perintah Tuan. Harusnya Pelayanan dilakukan dengan penuh kasih, sehingga seorang Kristen yang melayani, sekalipun banyak mengerjakan tanggung jawab sebagai hamba, namun tetap memiliki kedekatan secara Rohani dengan Sang Tuan yaitu Yesus Kristus.
Pada kalimat Yesus yang terakhir menegaskan bahwa Yesus menjadikan mereka sahabat karena mereka telah diberitahu apa yang Yesus terima dari Bapa-Nya. Menjadi sahabat Kristus adalah siap menerima apa yang menjadi firman-Nya. Kedekatan bersama Yesus terjadi bukan hanya kita melakukan sesuatu bagi-Nya tetapi mengetahui hal-hal lebih dalam dari Kebenaran Injil itu juga penting. Karena kedekatan bisa terwujud dari apa yang kita ketahui dengan benar. Semakin kita tahu maka rasa dekat semakin kuat, tetapi semakin kita tidak tahu rasa dekat semakin jauh. Yesus menghendaki kita tidak hanya terlalu menyibukan diri dengan melakukan sesuatu bagia Dia. Tetapi Yesus mengingatkan agar kita juga memberikan diri untuk mau tahu apa yang menjadi Firman-Nya.
Implementasi
Lalu bagaimana mewujudkan persahabatan bagi semua orang?. Berdasarkan kajian Injil Yohanes menunjukkan bahwa untuk menjadi sahabat bagi semua orang, kita harus menjadi sahabat Kristus. Mengapa?. Karena tanpa kasih Yesus yang ada di dalam kehidupan kita, maka ada banyak bahaya saat kita bersahabat dengan semua orang. Tidak semua orang cinta dan suka kepada kita. Namun jika ada kasih Kristus, maka orang yang membenci dan mengakimi kita dapat kembali kita rangkul sebagai sahabat. Kasih Kristus akan menolong kita tetap menjaga sikap saat ada banyak orang yang mengaku sahabat tetapi sejatinya musuh, sehingga kita bisa bersaksi tentang Kasih Yesus. Abraham Kuyper mengatakan bahwa "tidak ada satu incinpun di dunia ini tidak miliki Kristus." Hal itu benar, sehingga tidak ada satu orang pun juga yang tidak dikasihi oleh orang Kristen. Maka siap pun manusia ia berhak mendapatkan bagian kasih.
Menjadi sahabat bagi semua orang memang tidaklah mungkin, karena tidak ada satu pun manusia yang mengenal semua manusia di dunia ini. Sekalipun ada kemajuan Teknologi melalui akun media sosial, tetapi itu belum bisa menolong manusia mengenal semua orang. Sehingga dalam persepketif relasional maka hal tersebut tidak mungkin tercapai. Tidak ada manusia yang bisa menjadi sahabat bagai semua orang. Namun secara nilai hal tersebut dapat teralisasi yaitu bagaimana nilai Kasih Yesus menjadi bagian semua orang. Maka secara fisik tidak ada manusia yang bisa jadi sahabat semua orang, namun secara prinsip itu bisa terjadi karena kasih Kristus dinyatakan bagi semua orang. Dalam Teologi Reform ada Anugerah Umum. Anugerah umum memperlihatkan bahwa Allah masih memberikan kasih kepada semua manusia dan hal tersebut terlihat melalui ciptaan-Nya yaitu Matahari, Cuaca dan Oksigen. Maka hanya kasihlah yang bisa secara universal mempersahabatkan semua orang, dan kasih tersebut ialah kasih Kristus. Oleh karena itu jika ingin membangun persahabatan kepada banyak orang maka kedepankanlah kasih Kristus.
Di dalam iman Kristen untuk menjadi sahabat bagi semua orang itu perlu namun perlu disadari bahwa cakupan kawasan untuk bersahabat itu terbatas. Tidak bisa orang Indonesia bersahabat dengan orang di Kutub Utara. Namun di dalam Iman Kristen perwujudan persahabatan secara global daapat direalisasikan melalui tindakan mengharagai kemanusiaan. Menjadi sahabat bagi semua orang secara kuantitas itu tidak mungkin, tetapi memiliki kualitas persahabatan bagai sesama itu bisa. Artinya, kualitas persahabatan didasarkan kepada Kasih Kristus. Jadi dalam Theologia Reformed kualitas kasih itu yang utama, meskipun kuantitas untuk mengadihi terbatas. Namun adalah sebuah celaka jika kita bosa bersahabat dengan semua orang namun kualitas persahabatan tersebut tidak benar. Maka yang benar ialah menjadi sahabat yang berkualitas, yaitu sahabat Kristus dan memberikan persahabatan yang berkualitas yaitu menghadirkan Kristus bagi sesama. Maka dengan persahabatan yang berkualitas akan menghidarkan persoalan dalam persahabatan, baik itu masalah komunikasi dengan sahabat di dunia maya, namun mengabaikan sahabat di dunia nyata. Ancaman dari berita-berita Hoaks yang disebarkan di media sosial.
Sebagai penutup penulis menegaskan bahwa kasih Yesus adalah landasan utama membangun persahabatan yang bernilai tinggi dan berkualitas. Jika kita tidak mampu mengasihi semua orang secara jumlah, maka kasihilah beberapa orang yang bersama kita dengan kasih yang berkualitas. Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang menunjukkan nilai-nilai yang peduli bagi sesama. Karena itu persahabatan yang berkualitas hanya dapat terjadi dengan sungguh-sungguh, ketika manusia bersahabat dengan tujuan mempermuliakan Allah.
Ecclesia Reformata semper Reformanda Secundum Verbum Dei.
MANUSIA & PENYAKIT: Sebuah Kajian Teologis - Praktis Dalam Menghadapi Covid-19
Oleh: Made Nopen Supriadi



