Jumat, 25 September 2015

HATI DAN AKAL DALAM BERIMAN

Oleh: Made Nopen Supriadi, S.Th
         Kedua pola ini selalu hadir dalam argumentasi manusia. Ada yang menekankan konsep "I think" dan juga "I fill". Para penganut paham rasionalisme lebih menekankan konsep "I think" (saya pikir) karena ia mempunyai bukti yang dapat dipikirkan. Penganut konsep ini sering mengumpulkan bukti-bukti yang telah teruji, sehingga ia berkata karena pernah melihat bukti sebelumnya, sehingga memunculakn konsep "pasti". Dalam karya-karya pemikir seperti Hegel (1770-1831), Charles Darwin (1809-1882), Karl Max (1818-1883), Ludwig Feurbach (1804-1872), Imanuel Kant (1724-1804) beberapa orang besar ini tidak memihak keKristenan, bahkan di antara mereka belajar teologi dan menjadi musuh gereja. Mengapa? karena ada kegagalan bagaimana caranya mempertemukan dan menyikronkan, mengharmoniskan iman dengan pengetahuan. (Stephen Tong, Iman, Rasio dan Kebenaran, 16). Lalu para penganut paham empirisme menekankan "I Fill" (saya rasa) karena lebih menekankan perasaan sebagai bukti, penganut konsep ini akan sering membuat praduga-praduga dari perasaan hanya karena perasaan tidak nyaman, sehingga sering memunculkan konsep "kemungkinan" pada pemahamannya.  Mengenai kedua hal tersebut R.C. Sproul menuliskan: 
 "Kita hidup di dalam periode yang alergi pada rasionalitas. Pengaruh filsafat eksistensial sangat besar. Kita telah menjadi bangsa yang perasa. Bahkan bahasa kita menyatakannya. Mahasiswa di seminari saya berulang kali menulis seperti ini di kertas ujiannya: saya merasa salah bahwa... atau saya merasa benar bahwa... saya mencoret kata merasa dan menggantikannya dengan berpikir. Ada perbedaan antara merasa dan berpikir." (R.C. Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, xx)
         Pdt. Stevri Indra Lumintang pernah menjelasakan bahwa baik para penganut Rasionalisme dan empirisme sama-sama terjebak dalam "Subyektivisme" (Paham yang berpusat pada diri sendiri) (Stevri I. Lumintang, Pengantar Filsafat, Diskusi Kuliah di STTE). Dalam subyektivisme manusia bisa memakai Rasionya dan juga perasaannya. Maka saya menanggapi bahwa kedua konsep tersebut tidak boleh dipisahkan dan tidak boleh juga dicampurkan namun di sinergiskan. Maka baik rasio dan perasaan tetap berdiri masing-masing dan saling mendukung bukan saling menjatuhkan. selanjutnya menetapkan obyek menjadi basic untuk mendasari rasio dan mengarahkan perasaan. Bukan merasiokan obyek dan "meperasakan" obyek.
           Kebenaran itu obyektif maka baik orang yang lebih menekankan think atau fillnya tetap tidak obyektif ia masih tetap subyektif. Para Theolog Reformed, (John Calvin, Edwin H. Palmeer, Han. Marris, Stephen Tong) setuju bahwa Rasio dan Hati Nurani (Counscience) telah rusak dan tercemar oleh dosa. Dalam menggali pengetahuan para ilmuwan hanya mempelajari karya yang diciptakan Tuhan yaitu alam semesta. Hingga kini penyingkapan ilmu tersebut belum tuntas dan dimengerti. Apa yang dirumuskan rasio memberikan keheranan pada perasaan. Dan apa yang diungkapkan perasaan memberikan keraguan pada rasio. Jadi disinilah perlunya "kesimultanan" dalam "be-rasio" dan "be-rasa". Dibutuhkan keseimbangan dalam "be-rasio" dan "be-rasa". Menekankan salah satu hanya akan menimbulkan konflik. Sehubungan dengan relasi antara hati dan akal, Sproul kembali menjelaskan: 

"Apabila saya memiliki doktrin yang benar di dalam benak saya, tetapi tidak ada kasih untuk Kristus di dalam hati saya, maka saya telah kehilangan kerajaan Allah. Tentu saja lebih penting hati saya benar di hadapan Allah daripada teologi saya benar atau tidak salah. Namun demikian, supaya hati saya benar, ada keutamaan intelektual sehubungan dengan urutan. Tidak ada sesuatu pun yang akan ada di dalam hati saya, yang tidak ada terlebih dahulu di benak saya. Bagaimana saya dapat mencintai Allah atau Yesus yang saya tidak ketahui sama sekali? tentu saja, semakin saya mengerti tentang karakter Allah, maka kapasitas saya untuk mengasihi Dia semakin besar." (R.C. Sproul, Kebenaran, xxi)
        Dengan demikian Sproul menyatakan bahwa hati yang benar itu lebih penting dari pada akal, tetapi tetap saja hati yang benar membutuhkan akal yang benar juga, maka hati dan akal tetap saling memiliki hubungan erat dalam kehidupan iman orang Kristen. Paulus mengatakan "Aku tahu siapa yang aku percaya (2 Tim. 1:12)." Jika Paulus mengetahui dengan rasionya tentang apa yang ia percayai atau imani, maka pengetahuan dan iman dapat berjalan sejajar.  
       Jadi iman merupakan bagunan bersama dari akal dan hati, beriman tanpa berakal maka iman tersebut iman yang rapuh. Namun jika beriman tanpa hati maka kasih tidak terpancar. Perasaan dan pemikiran memiliki hubungan yang unik, bisa merasa tapi tidak berpikir, maka manusia gagal menganalisa perasaannya sehingga perasaan hanya terpendam di hati. Tetapi jika mampu berpikir tanpa perasaan maka pikiran kita menjadi sombong dan bahkan hanya berguna untuk merusak sesama manusia. Jadi mari berpikir agar yang dirasa dapat dimengerti dan mari memiliki rasa agar apa yang dipikir dapat memberi arti, namun keduanya hanya dapat bertemu dalam iman. Yesus Kristus berhasil mempertemukan rasio, hati dan iman Tomas. Tomas yang rasionil akhirnya perasaannya tunduk saat bukti rasio diberikan Yesus tentang kebangkitannya dan imannya juga bertumbuh sehingga ia mengakui Yesus adalah Tuhan. Namun saat ini kita ditantang dalam iman yang tidak melihat secara rasionil, tetapi kita bersandar pada iman yang merasa yakin bahwa apa yang kita rasa adalah benar secara rasio dan dapat kita pertanggungjawabkan meskipun kita tidak melihat Yesus secara rasio.
Ecclesia Reformata Semper Reformanda, secundum Verbum Dei, Soli Deo Gloria.