Selasa, 05 Maret 2019

DOKTRIN PREDESTINASI

Oleh: Made Nopen Supriadi, S.Th
Sebelum membahas tentang doktrin predestinasi kita terlebih dahulu harus mengerti tentang doktrin penetapan Allah (foreordaination). Penetapan sejak semula berarti rencana Allah yang berdaulat, yang denganya Allah menetapkan semua yang akan terjadi di seluruh alam semesta ini. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Allah berada dibalik segala sesuatu. Ia memutuskan dan menyebabkan semua peristiwa yang terjadi. Allah tidak tidak duduk diam sambil bertanya-tanya dan mungkin juga merasa cemas mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak! Sejak semula Allah telah menetapkan segala sesuatu ”menurut keputusan kehendak-Nya”: gerakan sebuah jari, detak sebuah jantung, tawa ceria seorang gadis, kesalhan seorang juru ketik, bahkan dosa.
Genesis 50:20  20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.
Acts 4:27-28   27 Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi,  28 untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.
Penetapan Allah berhubungan erat dengan kedaulatan Allah. Apakah penetapan Allah itu? Westminster Confession: Penetapan Allah adalah maksudnya yang kekal, sesuai dengan pertimbangan kehendak-Nya, demi untuk kemuliaan-Nya sendiri. Ia menetapkan apapun yang terjadi (Maz. 33:11; ), Allah berdaulat atas segala sesuatu (1 Taw. 29:10-12).
Kata predestinasi dapat kita temukan dalam Efesus 1:5 yang menyatakan : ”Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,”. Kata ”menentukan” dari kata dasar Yunani ’proori,zw’ (proorizo) yang artinya ”to predetermine, foreordain, predestine” (untuk menentukan, menentukan sebelumnya, menentukan). Jadi doktrin predestinasi adalah doktrin Alkitabiah yang mengajarkan tentang ’penentuan Allah’. R.C. Sproul menempatkan pembahasan predestinasi dalam doktrin soteriologi. Jadi saat ini secara khusus akan membahas doktrin predestinasi dalam konteks soteriologi.
A.    Kapan Allah melakukan predestinasi?
Jawab: Alkitab menyatakan bahwa Allah telah menentukan dari semula.
Efesus 1:5 ”Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”.
Efesus 1:11Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan, kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya
Kis. 4:28untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu”.
Roma 8:29Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
Istilah dari semula menunjuk kepada kekekalan. Jadi Allah telah melakukan predetinasi dari kekekalan. Jadi sama seperti gedung 30 lantai, maka membutuhkan pondasi yang sangat dalam juga. Maka jika keselamatan itu kekal maka pondasinya juga dari kekekalan.

B.     Pembuat & Obyek Predestinasi
1.      Pembuat
Ketetapan predestinasi adalah tindakan berkesinambungan dari ketiga Pribadi dari Allah Tritunggal, yang adalah satu dalam pertimbangan-Nya dan kehendak-Nya.
Yoh. 17:9-10Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu  10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.
Ef. 1:14Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.
2.      Obyek Predestinasi
Louis Berkhof menjelaskan bahwa obyek predestinasi mencakup semua makhluk yang mempunyai rasio, hati nurani dan kehendak, yaitu manusia dan malaikat.
Roma 9:15-16 15 Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati."  16 Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.
1 Tim. 5:21 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan dengan sungguh kepadamu: camkanlah petunjuk ini tanpa prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa memihak.
Yudas 1:6Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar.
            Dalam konteks karya keselamatan (soteriologi) Yesus Kristus juga menjadi obyek predestinasi Allah, Yesus Kristus telah ditentukan dari semula untuk melakukan karya penebusan.
Kis. 2:23  Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.
Roma 5:6  Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

C.    Bagian-Bagian Dalam Predestinasi
Dalam predestinasi kita akan menemukan dua bagian penting yaitu pemilihan sebagian orang untuk diselamatkan (election) dan penolakan Allah (reprobasi).
1.      Pemilihan (election)
a.      Definisi
Pemilihan dapat didefinisikan sebagai tindakan kekal Allah di mana Ia dalam kesukaan kedaulatan-Nya dan tanpa memperhitungkan jasa atau kebaikan manusia memilih sejumlah orang untuk menjadi penerima dari anugerah khusus dan keselamatan kekal (Lih. Louis Berkhof, Doktrin Allah, 207)
Efesus 1:4-5   Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.

b.      Ciri-ciri khas dari pemilihan
-          Merupakan penyataan dari kehendak dan kasih Allah yang berdaulat.
Ulangan 7:6-8 6 Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.  7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa?  8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.
Jadi pemilihan Allah mendahului karya penebusan umat Israel secara bangsa. Demikian juga dalam keselamatan secara individual orang yang telah dipilih akan diberikan kepada Kristus untuk ditebus, dibenarkan, dikuduskan, dan dimuliakan.

-          Pemilihan ini tidak dapat berubah dan dengan demikian menyatakan keselamatan dari orang pilihan adalah pasti.
Roma 8:29-30  29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.  30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Ayat tersebut tidak memfokuskan pada urutan logis, karena semuanya dapat berjalan simultan (bersamaan) tetapi ayat tersebut memfokuskan kita pada kepastian akhir orang yang dipilih oleh Allah.

-          Pemilihan ini bersifat kekal yang sudah berarti sudah ada sejak kekelan.
Efesus 1:4-5   Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.
2 Tim. 1:9   9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman
Jadi pemilihan sudah terjadi dalam kekekalan, hal tersebut menunjukkan bahwa manusia belum diciptakan Allah telah menentukan segalanya di dalam Yesus Kristus.

-          Pemilihan ini tanpa syarat.
Roma 9:11  11 Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya.
Pemilihan yang Allah lakukan tidak didasarkan pada kondisi manusia. Karena sebelum manusia dilahirkan Allah telah melakukan pemilihan. Bahkan jauh dari itu dalam kekekalan Allah telah memilih manusia yang diselamatkan.

-          Pemilihan ini tidak dapat ditolak.
Yehezkiel 36:26-27  26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.  27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.
Filipi 2:13  13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah secara aktif mengerjakan kemauan di dalam diri manusia yang diselamatkan. Dan Allahlah yang akan membuat manusia taat kepada Allah, sehingga orang yang dipilih Allah tidak dapat menolak.
-          Pemilihan ini tidak boleh dituduh sebagai ketidakadilan.
Romans 9:14-15  14 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil!  15 Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati."
Kis. 13:48  48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.
Jika kita menuntut Allah adil, maka tidak satu pun manusia akan diselamatkan. Manusia semua telah berdosa (Rom. 3:23), upah dosa adalah mau (Rom. 6:23), dalam kondisi berdosa manusia rusak total (total depravity) sehingga tidak ada kerinduan manusia untuk memilih Allah dan manusia tidak mampu memilih Allah (Kej. 6:5; Kej. 8:21, Mazmur 14:1-3). Jadi kalau Allah adil maka semua manusia harusnya dihukum dan tidak satupun yang selamat. Dalam kondisi demikian jika Allah hadir di tengah manusia berdosa maka manusia justru akan merasakan ketakutan penghukuman. Tetapi dari semua yang terhukum, Allah menyatakan kasih-Nya, Ia memilih dari antara mereka yang terhukum untuk diselamatkan, maka tindakan Allah memilih ini adalah anugerah yang besar (amazing grace).

c.       Tujuan Pemilihan
Tujuan pemilihan dari kekal ini ada dua, yaitu:
-          Rencana keselamatan bagi orang pilihan.
2 Tesalonika 2:13  Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.
-          Sasaran akhirnya untuk kemuliaan Allah.
Efesus 1:14  Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

2.      Penolakan (reprobation)
a.      Definisi
Penolakan adalah sebagai ketetapan kekal Allah di mana Ia telah menentukan sebagian orang untuk terhilang berdasarkan tindakan dari anugerah khusus-Nya, dan menghukum mereka karena dosa-dosa mereka untuk menyatakan keadilan-Nya.
Roma 9:13 seperti ada tertulis: "Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau."
Roma 9:18 Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.

b.      Penjelasan
Penolakkan menggambarkan dua tujuan Allah, yaitu: melewatkan sebagian orang dalam pencurahan anugerah keselamatan dan menaruh mereka dalam keadaan yang tidak dimuliakan dan masuk dalam murka Allah oleh karena dosa-dosa mereka.
Jadi dalam pemilihan Allah, sifatnya tidak bersyarat, maka dalam penolakkan Allah sifatnya bersyarat yaitu karena dosa-dosa manusia, maka manusia dibiarkan oleh Allah dan ditolak oleh Allah.
Roma 9:21-22 Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?  22 Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan.
Yudas 1:4   Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.
Amsal 16:4 TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.
2 Korintus 4:3-4  Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,  4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.
Jadi penolakkan Allah terhadap sebagian manusia yang tidak diselamatkan tidak menghilangkan anugerah umum / alamiah dalam kehidupan mereka (Lih. Mat. 5:45). Allah menolak manusia dengan memberikan kondisi yang juga membuat mereka dalam kesadarannya menolak Yesus Kristus.

D.    Predestinasi Ganda
Predestinasi mencakup 2 bagian, yaitu pemilihan dan penolakkan. Dalam Roma 9:13 menyatakan: ”Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau”. Alkitab memperlihatkan bahwa Allah telah menentukan dari mulanya orang-orang yang akan diselamatkan, dan secara logis pastilah ada orang-orang yang tidak diselamatkan. Lalu bagaimana kita memahami hal ini? Apakah Allah patut disalahkan atas orang-orang yang tidak diselamatkan?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita akan memahami pandangan yang muncul dalam predestinasi ganda yaitu: pandangan positif-positif (Aktif-Aktif) dan pandangan positif-negatif (Aktif-Pasif).  
1.      Pandangan positif-positif dari predestinasi
Pandangan positif-positif dari predestinasi mengajarkan bahwa Allah secara positif (Aktif) mengintervesi di dalam kehidupan orang-orang yang dipilih untuk mengefektifkan anugerah di dalam hati mereka dan membawa mereka kepada iman. Demikian pula dalam kasus orang-orang yang tidak dipilih, Allah secara positif (aktif) berintervensi di dalam hati mereka supaya tetap jahat dan menghalangi mereka untuk datang kepada iman.
2.      Pandangan positif-negatif dari predestinasi
Di dalam kasus orang yang dipilih, Allah intervensi secara positif dan aktif untuk mengefektifkan anugerah di dalam hati manusia dan membawa mereka kepada iman yang menyelamatkan. Allah melahirbarukan orang yang dipilih dan menjamin keselamatan mereka. Di dalam orang yang tidak dipilih, Allah tidak intervensi aktif (pasif) bekerja di dalam hati mereka untuk menjadikan mereka jahat atau menghalangi mereka untuk datang kepada iman yang menyelamatkan.
3.      Perbedaan dan persamaan
Dalam kedua pandangan tersebut (positif-positif & positif-negatif) terdapat perbedaan, yaitu aktivitas Allah antara orang yang dipilih dan tidak dipilih tidak simetris. Namun terdapat juga kesamaan yaitu kesimetrisan dalam kepastian akibat akhir, yaitu orang yang tidak dipilih baik secara positif atau negatif sama-sama ke neraka pada akhirnya.
4.      Jawaban terhadap beberapa teks Alkitab
a.      Roma 9:13
Apakah yang dimaksudkan dengan Allah ”membenci Esau?” Ada dua penjelasan:
1.      Kebencian kepada Esau bukan dalam arti sikap hati yang negatif kepada Esau, melainkan hanya tidak adanya kasih penebusan (anugerah khusus). Allah masih menunjukkan kebaikkan dengan memberi anugerah umum dan pemeliharaan dalam hal-hal alamiah tetapi Allah tidak memberikan anugerah khusus yaitu penebusan. Penjelasan ini merupakan pemahaman untuk mengantisipasi sikap bahwa Allah membenci seseorang.
2.      Kebencian kepada Esau artinya Esau tidak menerima berkat yang sama seperti Yakub, dan itulah artinya ia dibenci oleh Allah. Perhatikan Allah ’mengasihi’ Yakub karena Allah memberikan berkat tanpa hasil usaha apa pun dari Yakub. Allah memberikan berkat kepada Yakub yang ia tidak layak menerimannya. Penjelasan kedua ini menunjukkan bahwa Esau layak dibenci menurut pandangan Allah. Tidak ada sesuatu pun dari diri Esau untuk dikasihi Allah (Lih. Roma 9:14-16).
b.      Keluaran 4:21, 7:3, 9:12, 10:20; 27, 14:4
Dalam ayat tersebut kita melihat Allah mengeraskan hati Firaun. Apa artinya? Apakah Allah aktif menciptakan hati yang jahat lalu memberikannya kepada Firaun?. Pengerasan hati Firaun itu bersifat pasif bukan aktif. Artinya Allah tidak menciptakan hati jahat. Secara natur, semua manusia telah mengalami kerusakan total (total depravity of Man), maka begitu juga Firaun memang sudah mengalami kerusakan total. Namun dalam kerusakan total manusia Allah masih berkarya melakukan pemeliharaan (Providency of God), sehingga kejahatan manusia akibat dari kerusakan total manusia masih ditahan oleh Allah sendiri. Ketika Firaun mengeraskan hati menunjukkan bahwa Allah mengangkat anugerah yang menahan manusia untuk melampiaskan keinginan jahat mereka, dan membiarkan mereka untuk melaksanakan kecendrungan jahat yang sudah ada pada diri mereka.
Kesimpulan
Dari kedua ayat tersebut inilah yang Allah lakukan pada orang yang akan binasa di dalam neraka. Orang tersebut meninggal dalam kedegilan dan kejahatan dan dengan sadar menolak karya penebusan Kristus. Sehingga tidak ada orang di dalam neraka akan berteriak meminta ke Surga.  

E.     Predestinasi & Penginjilan
Doktrin predestinasi seringkali dianggap memberikan kepasifan dalam penginjilan. Namun doktrin predestinasi justru sangat penting dalam penginjilan.
Pertama, sebelum menerima Injil (panggilan Injil), kondisi orang-orang pilihan adalah sama dengan mereka yang binasa dan terpencar-pencar di padang pasir (Calvin, Institutio III, XXIV, 10). Jadi melalui penginjilan maka orang-orang yang telah diselamatkan oleh Allah akhirnya berkumpul dalam sebuah persekutuan.
Kis. 2:37-39   37 Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?"  38 Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.  39 Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita."
Kedua, Predestinasi merupakan bagian non material cause. Kita dapat memahami dan mengerti predestinasi hanya pada batasan material dan formal cause (pemberitaan Injil). Pada saat penginjilan, kita hanya memperlihatkan bagian materialnya, yaitu Injil di beritakan, dengan metode tertentu dan ada orang percaya atau menolak. Tetapi dibalik semua yang non material cause kita tidak memahami yaitu predestinasi Allah sebelum Injil diberitakan dan setelah orang mendengar Injil. Jadi pemberitaan Injil berperan sebagai instrumen (alat) untuk menyatakan pemilihan Allah.
 2 Korintus 4:3-4  Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,  4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.
Ketiga, doktrin predestinasi memberikan sukacita dan ucapan syukur keyakinan keselamatan, sehingga ucapan syukur dan keselamatan yang telah kita rasakan, mendorong kita untuk penginjilan.

KESIMPULAN
Doktrin predestinasi adalah doktrin yang Alkitabiah. Doktrin ini merupakan bagian dalam ketetapan Allah yang kekal. Doktrin predestinasi bersifat ganda dalam arti postif-negatif, artinya Allah aktif memilih orang untuk diselamatkan, namun manusia ditentukan dineraka karena dosa mereka. Doktrin predestinasi tidak menghilangkan tanggung jawab penginjilan, justru semakin memotivasi manusia dalam penginjilan untuk mengumpulkan orang pilihan dalam persekutuan dan muara predestinasi adalah untuk kemuliaan Allah.
Ecllesia Reformata semper Reformanda secundum Verbum Dei, Soli Deo Gloria